Komite Persiapan Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh

Siaran Pers – 20 September 2013

Naik Upah Minumum  2014 Sebesar 50%

Buruh Indonesia Siapkan MOGOK NASIONAL, Lawan Rezim Upah Murah

KSPI, SEKBER BURUH ( GSPB, FPBI, SBTPI, Federasi Progresip, FBLP, SBMI, SBM, SPCI, SERBUK, Front Jakarta, SMI, SPRI, Pembebasan, Perempuan Mahardika, PPI, KPO PRP, PR, Partai Pembebasan Rakyat, SBIJ, SPKAJ, KPOP) KASBI, FSPMI, ASPEK Indonesia , FSP KEP, SP PAR Ref, SP PPMI, FSP Farkes Ref, FSP ISI, PGRI, SEKBER Buruh ( GSPB, FPBI, SBTPI, Federasi Progressip, FBLP, SBMI, SBM, SPCI, Front Jakarta, SMI, SPRI, Pembebasan, Perempuan Mahardika, PPI, KPO PRP, Politik Rakyat, PPR, SBIJ, SPKAJ, KPOP) , GSBI, FKI, SPSI LEM Jakarta, TURC, Forum Buruh DKI, Forum Buruh Bogor Bersatu ( FB3), Buruh Bekasi Bergerak ( BBB), LBH Jakarta, KONTRAS, SP TSK, FSBI, OPSI, YLBHI, Imparsial.

Menuntut kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50%.

Setelah melakukan serangkaian aksi nasional dan daerah secara bergelombang sejak 3 September sampai 16 September 2013 di Jakarta, Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Batam, semarang untuk memperjuangkan kenaikan upah minimum sebesar 50%, para buruh Indonesia siap melakukan aksi kembali dengan massa yang jauh lebih besar dan gelombang aksi yang lebih panjang lagi yang puncaknya pada “Mogok Nasional” 2013 pada akhir Oktober.

Seluruh elemen buruh secara nasional yang terkonsolidasi dalam KOMITE PERSIAPAN KONSOLIDASI NASIONAL, yang terdiri dari berbagai organisasi buruh, aliasni atau kelompk – kelompok persatuan dari tingkat pabrik, kota/ kabupaten hinga provinsi, MENEGASKAN : tidak akan main-main dalam memperjuangkan kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50%.

Sudah seharusnya kesejahtraan buruh ditingkatkan dengan kenaikan upah minimum. Selama ini, daya beli buruh jauh dari kesejahtraan bahkan kenaikan upah minimum tahun 2013 tidak sempat dinikmati buruh akibat kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu yang menurunkan daya beli buruh hingga 30%. Dia menilai, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam keadaan baik, bahkan Indonesia menjadi pusat investasi utama di dunia, maka sudah seharusnya politik upah murah yang di usung Pemerintah yang berkuasa bersama, Apindo dan “Pengusaha Hitam” ditinggalkan. Kenaikan upah minimum 50% untuk secara nasional, dan Rp.3,7 juta untuk DKI Jakarta adalah wajar. Berdasarkan perhitungan cepat yang dilakukan KSPI didapatkan dari Kebutuhan Hidup Layak (KHL) pekerja lajang perbulan mencapai Rp. 3.772.000.

Seluruh elemen buruh secara nasional yang terkonsolidasi dalam KOMITE PERSIAPAN KONSOLIDASI NASIONAL MENEGASKAN, akan MENDESAKAN 2 issue perjuangan, yaitu:

1. Kenaikan upah minimum secara nasional 50% dan UMP DKI 3,7 juta pada 1 Januari 2014.
2. Memastikan pemerintah tidak memberlakukan system kerja “ ala perbudakan modern di indonesia ( PENGHAPUSAN Sistem kerja Kontrak & outsourching ), termasuk menghapuskannya di BUMN dan mengangkat seluruh pekerja Outsourching BUMN selaku Pekerja TETAP BUMN.

Terkait langkah-langkah kedepan untuk merealisasikan kenaikan upah 50% untuk daerah dan kenaikan upah Rp.3,7 juta untuk DKI Jakarta, KOMITE PERSIAPAN KONSOLIDASI NASIONAL telah menyiapkan langkah-langkah, yakni :

1. Seluruh elemen buruh secara nasional yang terkonsolidasi dalam KOMITE PERSIAPAN KONSOLIDASI NASIONAL akan mengadakan Rapat Akbar tingkat nasional yang akan dihadiri 1000 aktivis buruh pada 28-29 September 2013 untuk mempersiapkan Mogok Nasional di akhir Oktober.

2. Menyiapkan Aksi berikutnya lebih dari 100 Kabupaten Kota di Indonesia, diantaranya; Jakarta, Bogor, Bekasi, Bintan, Depok, Subang, Karawang, Purwakarta, Bandung, Cimahi, Sukabumi, Tangerang, Serang, Cilegon, Cirebon, Cilacap, Pekalongan, Semarang, Kendal, Demak, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Batam, Bintan, Riau, Palembang, Medan, Deli Serdang, Banda Aceh, Lhokseumawe, Kuala Simpang, Lampung, Makasar, Gorontalo, Kaltim, Kalsel dan beberapa daerah lainnya. Dia menerangkan, gelombang aksi-aksi di lebih dari 100 Kabupaten Kota ini untuk menunjukan pada pemerintah kalau perjuangan buruh untuk kenaikan upah minimum 2014 tidak main-main.

3. Menyiapkan massa 5 juta buruh dalam Mogok Nasional jilid II pada akhir oktober 2013

4. Akan mengawal sidang-sidang dewan pengupahan di seluruh kota dan provinsi, agar sidang pengupahan berjalan dengan transparan dan objective.

Akan melakukan upaya – upaya yang di angap perlu dalam rangka memenangkan kepentingan dan hajat hidup kaum buruh dan rakyat di Indonesia kepada pihak – pihak yang terkait ( Lembaga Negara, dstnya ) .

“MENGAJAK SELURUH BURUH INDONESIA UNTUK MELAWAN REZIM UPAH MURAH”

*Diambil dari http://www.fspmi.or.id

 

Iklan

3 thoughts on “Komite Persiapan Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh

  1. jacob ereste

    WALIKOTA METRO HARUS KLARIFIKASI
    SEJARAH MASJID TAQWA YANG HILANG

    Sungguh saya merasa kaget dan terkejut Masjid Taqwa Metro, Lampung Tengah telah direnovasi oleh pemerintah setempat, sehingga mengubah seluruh bentuk bangunan Majid yang lama sampai tidak berbekas, meski tetap disisakan Menaranya. Nanum nilai hostoris yang dikandungnya, baik untuk nama sejumlah mereka yang telah berjasa ketika membangun dahulu menjadi musnah. Apalagi hanya sekedar nostalgia bagi sejumlah remaja di Metro ketika itu yang kini telah beranjak dewa bahkan tua.
    Nilai sejarah yang melekat pada banunan Masjid Taqwa Kota Motro itu pun telah bersifat monumental, sehingga menandai masa silam yang bersifat religious dan menandai ketekunan ibadhah warga masyarakat setempat.
    Nilai historis bangunan Masjid Taqwa Metro jelas tidak bias digantikan oleh bentuk apapun, mengenang bangtunan itu dahulu dibangun oleh upaya swadaya masyarakat yang menandai keguyuban serta kebersamaan dari peran serta masyarakat. Namun semuanya sekarang menajdi lenyap, termasuk kandungan religiusitasnya yang cukup sacral. Karena telah membentuk karakter pengkhayatan keagamaan yang mendalam.
    Karena itu sebagai warga masyarakat Metro yang kini bermikim di Jakarta, saya sangat kecewa, keberatan dan mendesak klarifikasi dari aparat Pemerntah Kota Madya Metro yang terkait dengan renovasi yang dilakukan secara serampangan itu, sebab akibatnya membuat saya menjadi merasa terasing lantaran tidak satu pun bangunan bersejarah lainnya mampu member kenangan indah di masa lalu. Perombakan bangunan kediaman Bupati Lampung Tengah dahulu yang kini difungsikan sebagai tempat kediaman Walikota Metro pun sangat mengecewakan, termasuk bangunan tua bekas Pusat Komando Distrik Militer (KODIM 0411) yang kini dijadikan tempat kediaman Wakil Walikota Metro, semakin menghilangkan identitas Kota Metro yang saya kenal dahulu.
    Walikota Metro, berikut aparat serta jajaran pemerintahan lainnya – DPRD, Bappeda – patut memberikan klarifikasi, agar persepsi negative tentang pembangunan yang dirobohkan itu tidak terjadi penyelewengan atau penyimpangan. Saudara Lukman Hakim harus memberikan keterangan rinci serta alasan yang jelas dan amsuk akal, sehingga dugaan terjadinya penyalahgunaan maupun penyimpangan dalam pembangunan Masjid Taqwa Metro tidak sampai menimbulkan fitnah dan merugikan banyak pihak.
    Harapan saya kepada Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pemerika Keuangan Daerah (BPKD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Metro dapat memberikan keterangan yang memuaskan pada warga Metro dan sekitarnya atas renovasi yang dilakukan semana-mena terhadap bangunan bersejarah itu. Jika tidak, maka dugaan banyak pihak terhadap penyelewenagn yang dilakukan berjemaah akan memperoleh pembenaran telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Metro bersama pejabat lainnya.
    Klarifikasi ini kami harapkan dapat dilakukan secepatnya, paling lambat dalam tempo 5 (lima( kali (x) 24 jam terhitung surat tebruka ini dipublikasikan, bias klier dan diklarifikasi oleh Walikota Metro, DPRD, Bappeda Pemerintah setempat, sehingga masalahnya tidak perlu meluas dan menambah keresahan masyarakat, baik yang ada di Metro Lampung, maupun yang ada di perantauan sekarang.

    Metro 1 November 2013
    Jacob Ereste
    Da: Hp : 08197975737, 082111745533

    Balas
  2. jacob ereste

    Bangkitnya Kepemimpinan
    Spiritual Indonesia

    Oleh : En Jacob Ereste

    Kepemimpinan spriritual saatnya tampil dan mengambil peranan dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dan beradab. Kemerosotan dan kerusakan dalam berbagai segi kehidupan penyebab sesungguhnya bukan karena pertahanan maupun ketahanan ekonomi yang rapuh, juga bukan lantaran masalah politik yang kotor dan degil, pun tidak disebabkan oleh budaya ketergantungan kita pada pihak asing hingga mengakibatkan kita tidak memiliki kpribadian sebagaimana yang diidam-idamkan para founding fathers bangsa Indonesia, akan tetapi semua itu disebabkan oleh kelemahan nilai-nilai spiritual yang seharusnya menjadi penata keseimbangan hidup yang bersifat duniawi sekaligus ukhrowi.
    Itulah pengertian “langit di luar dan langit di dalam” seperti yang didedahkan WS. Rendra dalam sajak-sajak religiusnya dalam memahami hakikat kehidupan yang paling substansial untuk dijadikan semacam “radar pengendali” antara kehidupan di dunia dengan kehidupan di akherat. Kendati kehidupan di akherat itu baru akan kita alami kemudian, tetapi “esok dan hari ini sama saja”. Sebab antara kehidupan yang satu dengan kehidupan yang lain tidak bisa dipisahkan. Masing-masing bagian memiliki keterkaitan satu sama lain.
    Dalam filsafat Jawa, pemahamannya yang paling sederhana dapat dimengerti dari apa yang dimaksudkan oleh “manunggaling kawulo lan gusti”. Pengertian “manunggaling kawulo lan gusti” tentu saja tidak bisa diartikan bersatunya manusia dengan Tuhan — Sang Pencipta Alam Semesta ini — dalam arti fisik. Akan tetapi, bersatunya sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia sehingga layak disebut sebagai khalifatullah di muka bumi. Karena sifat-sifat Tuhan yang harus kita usung – kendati amat sangat sedikit kadar maupun kualitasnya – itu semua merupakan tugas sekaligus kewajiban yang mesti dimiliki oleh setiap orang, hingga dengan begitu sifat-sifat kemanusiaan tidak sampai tergerus menjadi sifat-sifat makhluk Tuhan lainnya yang lebih rendah derajatnya dibanding manusia yang dianugerahi kemampuan menjadi makhluk paling sempurna di muka bumi.
    Menurut Sultan Ternate, H. Mudaffar Syah, M.Si, dalam konteks Kepemimpinan Spiritual Indonesia, relevan dengan konsepsi Sang Hiyang. Tidak ada duanya. Sangkan paraning dumadi. Jo singopangare. Lalu dengan itu kita ingin membawa spiritual itu secara menyeluruh. Selanjutnya, pemikiran jo singopangare dan sangkan paraning dumadi itu, sama. Satu substansi, Cuma namanya saja yang banyak. Kalau dalam agama, substansinya itu Yesus. Namanya Allah SWT. Begitu juga Budha Guatama dan sebagainya. Zoraster .
    Kesultanan Ternate didirikan oleh para leluhur sekitar 800 tahun lalu, ini tentu dibangun dengan dasar pemahaman dan landasan yang kuat. Jadi menarik sejarah landasan spiritual Mahkota – dalam arti tanggung jawab seorang Sultan Ternate – dalam konteks kekinian. Karena dalam budaya jawa ini tabu, atau sangat dirahasiakan. Bagi Sultan Ternate sendiri, masalah kehidupan di Kesultanan, baik dalam tata pengelolaan pemerintahan maupun praktek pelaksanaan penghayatan keagamaan yang cukup Islamis, pengertian tentang Kepemimpinan Spiritual pun bukan sesuatu yang rahasia, atau tabu dibicarakan secara terbuka dan diketahui umum. Memang Kesultanan Ternate mempunyai sistem yang terbuka. Maka itu bisa saja terbuka semua. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kalau di Jawa, mungkin begitu. Bahwa ini dan ini hanya untuk keraton. Bagi Kesultanan Ternate semua terbuka. Karena pada akhirnya, rakyat itulah kratonnya Sultan yang sesungguhnya.
    Yang menarik, tanggung jawab seorang Sultan terhadap rakyatnya, dan mungkin dapat diimplementasikan dengan kondisi Indonesia sekarang. Lalu apa saja yang harus ditanamkan para pendahulu di Kasultanan Ternate pada generasi berikutnya, sehingga Kesultanan Ternate bisa langgeng sampai sekarang. Konsepsi sinonako itu dalam budaya masyarakat Ternate sesungguhnya adalah pemahaman untuk mengenal apa ? Dan konsepsi untuk mengenal siapa ? Sehingga dari para nenek moyang masyarakat Terenate secara turun temuran –mengajarkan untuk mengenal dirimu sendiri. Pertama mengenal diri sendiri sebagai manusia. Setelah itu, sebagai manusia – sudah kodratnya – mencari sosok pemimpin. Di Ternate – tepatnya di pora madiahe – sebuah gunung, itulah tempat pertama kali Kesultanan Ternate didirikan sekitar 800 tahun silam. Pora madiahe, artinya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam diri kita ini. Di sanalah diajarkan – dengan bahasa Ternate – banyak hal. Itulah yang kemudian dinamakan labololo. Artinya dolabololo itu – kira-kira sudah dikumpulkan sekitar 100 buku lebih oleh Sultan Ternate. Semua sudah diterbitkan dalam bahasa Ternate dan bahasa Indonesia. Semua memuat adat istidat, permainan rakyat dan sebagainya yang ada di Ternate.
    Pora madiahe itu – tempat bersumah Sultan Ternate yang dinobatkan – lokasi makamnya Sultan Babullah. Pora madiahe sekaligus sebagai simbolika dari seuatu agar tampak lebih jelas. Bagaimana pola hubungan Sultan dengan rakyat dan bagaimana dengan Sultan sendiri. Lalu ada juga syarat lainnya, kalau sudah menjadi Sultan – seperti dikisahkan para masyarakat Ternate – bahwa seorang Sultan tidak boleh terus menerus berada di keraton. Karena seorang Sultan harus turugang. Itu artinya harus turun dari kampung ke kampung, langsung mengunjungi rakyat. Agaknya, konsep kepemimpinan model Kesultanan Ternate inilah yang kemudian diadopsi Joko Widodo, Gubernur yang memimpin Daerah Khusus Ibukota, Jakarta sekarang.
    Penuturan Sultan Mudaffar Syah, sorang Sultan Ternate harus duduk bersama rakyat, dan makan apa yang dimakan rakyat. Tidur juga bisa di balai-balai seperti apa yang dilakukan rakyat. Jadi petunjuk-petunjuk untuk memimpin rakyat di Ternate, juga berasal dari rakyat sendiri. Kalau pun rakyat segan berbicara – seperti anda saksikan dalam suatu upacara di Ternate – rakyat menyuguhkan nasi kuning yang dilengkapin telor di atas puncak nasi tumpeng itu. Rakyat mengibaratkan Sultan seperti telor di atas nasi kuning. Sultan di atas, rakyat di bawah menjadi penyangganya. Maksudnya pun, antara Sultan dan rakyat tidak bisa bercerai. Karena kalau bercerai, Sultan akan terguling seperti telor di atas nasi kuning itu.
    Rakyat Ternate juga bisa berkata langsung kepada Sultan; “kau jangan macam-macam. Kalau kita berpisah di sini, kau pun bisa terguling.” Jadi begitulah menyatunya Sultan dengan Rakyat. Seperti di Jawa, hakekat “manunggaling kawulo lan gusti” itulah yang tercermin pada simbolika nasi kuning yang ada telornya pada bagian atasnya itu. Artinya, tanpa revolusi pun Kerajaan akan terguling, jika rakyat sungguh menghendaki.
    Begitulah pola hubungan yang harmoni antara rakyat dengan Sultan dalam pelaksanaan pemerintahan Kesultanan Ternate, satu sama lain erat kaitannya dalam konsepsi kepemimpinan maupun pengabdian. Sultan diletakkan sedemikian rupa di atas, dan rakyat menyungginya dengan penuh kesadaran bersama. Dan Sultan di Ternate tidak bisa semena-mena. Harus mendengar aspirasi rakyat. Jadi hakikat raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah sudah dengan sendirinya menjadi kesadaran bersama. Bukan omongan semata, kata Sultan Mudaffar Syah memberikan kesaksian.
    Konsep yang menjadi pegangan Sultan dan masyarakat Ternate cukup jelas. Sehingga rakyat tidak akan mengkhianati Sultan, apalagi membencinya. Begitu pula sebaliknya, Sultan tidak mungkin mengkhianati rakyat, apalagi mau membencinya. Karena di Ternate ada kesepakatan dan pemahaman bersama antara rakyat dengan Sultan – seperti di Jawa – manunggaling kawulo lan gusti – jou che ngogapangare. Itu diterjemahkan oleh Sultan Mudaffar Syah agar masyarakat luar bisa gampang mengerti. “Kau adalah aku, dan aku adalah kau.” Karena itu, kesadaran seorang Sultan bukan hanya mencerminkan sifat dan sikap ilahiah, tetapi juga menjadi panutan serta tuntunan untuk banyak hal, termasuk dalam menjalankan ajaran agama sekaligus member petunjuk dalam menghadapi beragam persoalan yang berhubungan dengan masalah spiritual.
    Sistem kepemimpinan spiritualistik dalam tata pemerintahan Kesultanan Ternate, pun bisa ditularkan kepada seluruh kepempimpinan di semua tingkat di seluruh Indonesia, mulai dari Bupati, Gubernur hingga Presiden. Tapi kita harus gigih melakukannya agar dapat menjadi model sebagai contoh untuk kemudian dikembang di berbagai daerah atau berbagai tingkatan kepemimpinan lokal maupun nasional. Kalau sudah ada contoh yang bagus sebagai model yang akan dikembangkan, rakyat sendiri yang akan menjadi penjaganya. Rakyat akan mengkritik, manakala ada model yang menyimpang dari apa yang dikehendaki bersama untuk kita kembangkan.
    Sultan Mudaffar Syah sejak beberapa tahun lalu mulai memberlakukan Jum’at Suci di Ternate. Teknisnya seperti upacara nyepi di Bali. Semua kegiatan dihentikan, tidak ada suara dan kegiatan, kecuali hanya mendengungkan firman Allah dimana-mana. Jum’at Suci di Ternate terus dilanjutkan ke Masjid. Tampillah khotbah yang mendinginkan suasana. Inilah gerakan spiritual yang nyata sudah dilakukan bersama masyarakat Ternate sampai sekarang. Sultan Mudaffar Syah pun mengakui gerakan Jum’at Suci di Ternate masih relative baru dimulai.
    Ttetapi, Stultan Ternate sudah melakukan secara nyata revolusi spiritual. Jadi Sultan Mudaffar Syah sudah mempraktekkan revolusi spiritual bersama masyarkat Ternate. Karena dengan cara itu kehidupan manusia akan lebih tenteram, nyaman dan mampu memulihkan rasa aman, tidak lagi memikirkan hal-hal lain, seperti hingar bingar membicarakan masalah politik. Oleh karena itu, menurut dia, apa yang digagas Sri Eko Sapta Wijaya dan dirinya itu sesungguhnya sama. Bahwa sesungguhnya perlu dibangkitkan gerakan spiritual di Indonesia. Agar perubahan watak yang bersifat duniawi – materialistik dan sebagainya itu – bisa ditekan hingga titik nol. Inilah langkah nyata jika hendak membawa rakyat memasuki pemahaman yang dimaksud dari manunggaling kawulo lan gusti itu. Kalau semuanya bisa memasuki wilayah kemanunggalan ini, eksistensi rakyat akan semakin kuat. Hingga kedaulatan rakyat tidak perlu lagi diragukan.
    “Pemimpin spiritual untuk Indonesia bisa kita harapkan segera lahir. Bisa saja bukan Mas Eko dan bukan saya. Tetapi kepemimpinan spiritual itu lahir dari masyarakat kebanyakan. Atau bahkan, bukan dari rakyat Ternate, tetapi dari rakyat Indonesia yang lain. Untuk kemudian kepemimpinan spiritual itu mampu memimpin bangsa kita menuju cita-cita berama yang lebih mulia.” Idealnya, kepemimpinan nasional itu memang harus memiliki kemampuan memimpin pemerintahan sekaligus memimpin keagamaan dalam arti spiritual. Dalam adat istiadat kita – khususnya seperti di Ternate – sudah mengajarkan, semua harus diselesaikan secara adat. Model kepemimpinan nasional tidak bersandar pada nilai-nilai tradisi, tetapi sangat kuat dipengaruhi oleh pola kepemimpinan yang dikembangkan secara akademis. Akibatnya, nilai spiritual yang ada dan telah diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur kita, tidak mewarnai model kepemimpinan yang berkembang di negeri ini.”
    Pengangkatan seorang Sultan Ternate, juga behubungan dengan hal-hal yang gaib. Jadi ada juga semacam petunjuk, terutama petunjuk dari para leluhur. Karena itu muatan spiritualitasnya pun sangat tinggi. Sebab untuk mengangkat seorang Sultan, bagi masyarakat Ternate tidak bisa dilakuakn secara serampangan. Karena keberadaan Sultan akan sangat menentukan masa depan rakyat Kesultanan. Idealnya, begitu juga bagi seorang kepala Negara – Presiden – tidak boleh dilakukan secara serampangan – apalagi dengan money politik seperti yang dikhawatirkan banyak orang saat Pemilihan Umum untuk memilih Presiden maupun ketika hendak menentukan para anggota legislative hingga Pemilihan kepala daerah di Indonesia.
    Tidak berbeda dengan sejarah masa Kejayaan Majapahit yang ditandai oleh konsep persatuan dan kesatuan hingga menjadi program dasar Majapahit Agung. Konsepsi yang cerdas itu telah memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan bagi pengembangan daerah yang pada akhirnya membawa negara besar di Nusantara ini ke pintu gerbang kemajuan peradaban bangsa-bangsa Nusantara hingga disegani oleh bangsa dan negara sahabat maupun mancanegara. Padahal, keberadaan Hayam Wuruk – sebagai raja Jawa yang pernah berjaya mengangkat pamor kerajaan yang berkuasa di Nusantara baru saja lahir tahun 1334, beberapa bulan sebelum Gajah Mada dikukuhkan sebagai Mahapatih Amangkubumi. Pada saat Gajah Mada mengucapkan sumpah sakral Amukti Palapa, bayi Hayam Wuruk baru saja menikmati udara Majapahit yang dibarengi dengan krisis kepemimpinan. Dalam Nagarakertagama, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Majapahit sudah menetapkan batasan wilayah negara tetangga (bukan negara bawahan), seperti: Sin (Shongkla), Thai, Dharmanagara, Martaban (Birma), Kalingga (Rajapura), Singanagari, Campa, Kamboja dan Annam (Yawana).
    Spiritualitas Nusantara menurut Bondan Gunawan, adalah spiritualitas budaya. Spiritualitas kultural. Kalau kita mau menggali spiritualitas cultural, kita tidak boleh membicarakannya dengan tatanan kekuasaan. Jadi spiritualitas Nusantara adalah memahami – dalam bahasa Jawanya – sangkan paraning dumadi – yaitu dari mana kita datang, apa yang kita kerjakan dan kemana nanti kita akan pergi sebagai manusia . Nah, spiritualitas cultural inilah yang menjadikan basis pijakan bahwa bangsa Indonesia lahir sebelum negara Indonesia ada. Sehingga, bedanya spiritualitas dan ilmu formal – karena ilmu formal itu kalau sudah meningkat kualitasnya — dia memperoleh pengakuan, tidak akan pernah merosot. Kalau tingkat kejiwaan atau kematangan hati, serta kematangan fikir, kita hari ini bisa berada di kelas sembilan belas. Tetapi, begitu keliru melangkah, maka saat itu juga derajatnya kembali ke tingkat TK (taman kanak-kanak).
    Begitulah spiritualitas. Sehingga – kalau ada orang yang menganggap spiritualitas itu klenik – itulah yang disebut paranormal. Padahal, spiritualitas cultural atau spiritualitas budaya itu adalah sebuah keniscayaan yang memang diberikan Tuhan kepada kita. Karena ketika Indonesia dibentuk, dasarnya bukan semata-mata negara kolonial. Pembentukan negara Indonesia bukan karena darah yang sama, bukan karena budaya yang sama, dan bukan karena agama yang sama. Indonesia ini dibentuk – berdasarkan prasyarat yang ada – itu semua tidak mungkin bisa menjadi negara bangsa Indonesia. Karena negara kita ini terdiri dari bangsa-bangsa. Mulai bangsa Aceh, Lampung, Banen, Bugis hingga Bangsa Papua. Dan Bangsa Jawa sendiri pun bermacam-macam. Ada Sunda, Jawa Tengah, dan Jawa Timur bahkan Jawa Pesisir.
    Perwujudan dari apa yang digagas Soekarno itu dia tunjukkan formulasi kongritnya dalam nation and character building. Tetapi nation and character building-nya Soekarno itu bukan semata-mata seperti nation and charater building bangsa-bangsa lain. Apa yang dirumuskan Soekarno itu merupakan muara pemikiran dari seluruh founding fathers. Termasuk Wage Rudolf Supratman. Dalam lagu Indonesia Raya itu sendiri ada tiga stanza. Intinya stanza pertamanya, menyeru Indonesia bersatu. Pada stanza kedua, kita berdoa untuk Indonesia, agar tetap abadi. Begitulah dokumen otentik syairnya yang diciptakan oleh Supratman dan dikenalkan pada tahun 1928. “Ketika itu (1928), kita baru berjanji. Jadi tahapan kita – sampai sekarang – masih mengajak bersatu. Belum masuk ke dalam tahapan berdo’a. Karenanya, untuk memahami spiritualitas Nusantara bukan mencoba untuk membangkitkan artefak yang sudah ada, tetapi memang harus dilahirkan sesuatu yang merupakan kemajuan peradaban sebagai hasil benturan budaya kita dengan budaya dari luar.
    Jika memang bisa melakukan revolusi spiritual di Indonesia, Bondan Gunawan mengharapkan perubahan karakter yang mendasar bagi segenap warga bangsa Indonesia yang sudah berkarakter prakmatis dan instan. Ya, kita harus kembali pada jati diri bangsa. Juga dari character building.
    Yang tidak kalah menarik, selain olah batin, Bondan Gunawan juga melakukan olah pikir. “Sehingga, kalau saya ditanya kapan Indonesia akan bangkit kembali, menurut saya saatnya ya sekarang ini. Karena hancurnya perekonomian Eropa dan Amerika sekarang, grafitasi ekonomi dunia itu akan bergeser di Asia, yaitu RRC dan India. Pada saat itulah ekonomi Indonesia harus melenting, maju ! Maka itu kalau meleset – tak mampu bangkit sekarang juga – maka bangsa Indonesia akan menjadi ‘bangsa kuli’. Akibatnya lebih lanjut bagi kita – kalau gagal – kita akan jadi ‘rumpun Melayu’, bukan lagi Bangsa Indonesia. Karena Indonesia akan segera menjadi pasar dari produk-produk mereka.
    Menyimak pengalaman spiritual Soekarno, tokoh Fordem –Forum Demokrasi yang dikelolalnya bersma Gus Dur dan Marsilam Simanjuntak serta sejumlah tokoh lainnya – Bondan Gunawan membuka kisah Bung Karno – ketika menjelang meninggal – beliau bicara dalam bahasa Belanda, celakanya kawan-kawan saya tidak ada yang mengerti—karena beliau minta dibacakan Mateus 10 ayat 16. Bunyinya Mateus 10 ayat 16 itu begini; engkau bagaikan domba yang akan aku lepaskan ke tengah srigala/ maka kau harus cerdik seperti ular/ dan tulus seperti merpati/ …… Itu yang ada di Bibel. Inti pesan Soekarno itu hendak mengatakan, karena jaman yang akan kamu hadapi itu akan sangat sulit. Di hadapan DPR pada Pidatonya yang terakhir, Soekarno mengatakan yang akan kita hadapi adalah neo-imperialisme. Sekarang ini pun saya menyebut pemerintahan Indonesia adalah kolonialisme terhadap bangsa Indonesia sendiri.
    Dalam versi Permadi SH , jika mengacu pada masa kejayaan Majapihit “kini telah genap 500 kisah Sabdo Palon. Sabdo Palon berkata kepada Raden Fatah, saatnya kini kejayaan bangsa-bangsa Nusantara akan kembali terjadi. “Ha…haaa Fatah, aku datang menagih janjiku. Kejayaan Majapahit, kejayaan Nusantara. Hai rakyat Nusantara, sambutlah kedatanganku. Gelegarkan, kobarkan, getarkan goro-goro revolusi, ya revolusi seluruh rakyat Nusantara untuk mengembalikan kejayaan yang hilang.”
    Kecuali itu menurut Permadi SH, “ludiro bakal melabar-melabar mencuci Nusantara. Pekik kegirangan dan kepedihan menyatu. Hai rakyat Nusantara, jangan gentar menghadapi ini. Kita songsong kejayaan menuju mencusuar dunia. Janjiku, ikrarku, sumpahku pasti terjadi, terwujud. Karena kuucapkan dengan restu Gusti Allah.” Hingga akhirnya, seperti yang sudah sepatutnya terjadi sekarang, “aku datang bersama sesosok kesatria Pinilih. Bersenjata pasopati lan ulan geni. Hai bedebah angkara murka, penyengsara rakyat, bersiaplah untuk disirnakan oleh sang kesatria. Dan para bedebah tidak akan bisa mengelak, karena aku datang dengan prahara alam. Para leluhur, roh-roh gaib, serta pagebluk, diutus Tuhan untuk mensirnakan angkara murka.”
    Permadi menyatakan, “ Saya kira sudah sangat jelas, seorang pemimpin sejati memiliki wahyu Illahi. Kita tidak tahu – sesuai dengan perkembangan jaman – mungkin dahulu bentuknya seperti wahyu Cangraningrat seperti yang diceritakan dalam pewayangan. Kemudian dalam dunia nyata, wayhu itu Nogososro Sabuk Inten. Kemudian berganti lagi, seperti Sri Sultan memegang wahyu Joko Piturut. Ya, sesuai dengan jaman sesuai pula dengan wahyunya. Karena tidak mungkin tidak ada penyesuaian.”
    Dalam konteks kepemimpinan, sebetulnya, orang Jawa sudah tahu pakem-nya. Raja Jawa itu adalah Khalifatullah. Yaitu wakil Tuhan di dunia untuk memerintah. Sayidin Panoto gomo, itu artinya pemimpin dari semua agama. Sedangkan pemahaman Senopati ing ngalogo, itulah Panglima Perang, seperti gelar Nabi Muhammad.
    Masalah wahyu, itu seperti pertanda dari Tuhan, bahwa kita ini umpamanya diizinkan menjadi pemimpin. Tentu ada wahyu utama, Pemimpin Nusantara. Karena ada juga wahyu yang kecil-kecil, termasuk ketua partai. Kalau Ketua Partai tidak memiliki wahyu, jadinya ya seperti sekarang. Mengkomersialkan partai. Di jaman dahulu, Raja memberikan keris kepada Bupati, atau pejabat keraton lainnya sesuai dengan jabatannya masing-masing. Itu bisa dikatakan menandai sifat kandel atau wahyu dari raja yang bersangkutan.
    Konsep pencerahan yang dilakukan Ismoyo atau Semar. Itu bermula dari pemahaman Semar adalah Dewa yang mengejawantah sebagai manusia. Sebagai Dewa, Semar sangat bagus, gagah. Tapi sebagai manusia, Semar itu buruk rupa. Termasuk anak-anaknya. Seperti Petruk wetengnya njembling, irunge dowo. Gareng tangane ceko, melakune pincang. Bagong matane ombo, lambene nduer. Itu semua menggambar manusia buruk rupa.
    Di Majapahit dikenal sebagai Sabdo Palon. Ketika terjadi perebutan kekuasaan, Majapahit jatuh kepada Raden Fatah. Semar duko, mlayu. Mokso, lalu berjanji, esok limangatus tahun yang akan datang. Kalau terjadi peristiwa yang sama seperti sekarang, aku akan kembali, katanya. Kutagih janjimu. Karena Nusantara akan menjadi negara yang besar. Jadi Semar itu bukan sekedar punakawan. Semar itu seperti tokoh politik, tokoh sentral. Karena itu sosok Semar memang sangat diharapkan dapat memberi pencerahan, gambaran mengenai negara. Sosok Semar itu bisa disebut negarawan. Karena manusia mempunyai keterbatasan, mereka menjadikan Semar sebagai symbol supaya merasa lebih mantap. Bahkan terkadang, sosok Semar juga dimistikkan, diklenikkan.
    Leluhur dunia makarti menurunkan kesucian. Mari kita songsong matahari yang terbit dari Timur. Sih wilasan ning Gusti. Pertapaan Pringgodani menyongsong tagihan Sabdo Palon. Begitulah ! Sirno ilang angkara ning bumi. Kebangkitan dan revolusi spiritual yang sempurna akan melahirkn kepemimpinan spiritual yang sangat dinanti-nantikan umat manusia di bumi, untuk menata kehiddupan yang lebih baik dan beradab. Kebangkitan dan revolusi spiritual hanya akan muncul dari timur, yaitu dari bumi Nusantara. Itulah sesungguhnya hakikat dari apa yang dimaksudkan bahwa Indonesia akan menjadi mercu suar dunia.

    Jakarta, 10 November 2013

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s