Marx, Jender, dan Pembebasan Manusia

Oleh Heather Tomanovsky

Tulisan Marx tetang jender dan keluarga lebih substansial signifikansinya, dan lebih berharga, daripada yang biasa diakui. Marx memberikan pencerahan yang penting ke dalam relasi jender di masanya, menunjukkan kebutuhan atas suatu transformasi total masyarakat yang (akan) harus meliputi hubungan baru antara laki-laki dan perempuan, meskipun dengan beberapa elemen yang juga mengandung persoalan. Hal ini sudah tampak jelas di salah satu karya awalnya, Manuskrip 1844 (1844 Manuscripts), dan merupakan sebuah tema yang (sering) berulang di dalam tulisan-tulisannya dan aktivitas politik di sepanjang hidupnya.

Memang benar bahwa tulisan-tulisan Marx tentang jender dan keluarga berada sporadis di berbagai karyanya, dan ia tidak menyediakan suatu teori yang siap pakai secara lengkap terkait relasi jender. Namun demikian, ini bukan berarti  Marx tidak tertarik memahami relasi jender, atau bahwa ia seksis. Tentu terdapat beberapa areal problematis di dalam tulisan-tulisannya tentang jender dan keluarga, seperti posisinya yang ambivalen (mendua) terkait perubahan status moral perempuan ketika mereka menjadi bagian tenaga kerja, disini (ia) berpotensi menggambarkan suatu sudut pandang Victorian yang moderat (terhadap perempuan). Meskipun teori Marx masih belum berkembang dalam mempertimbangkan jender sebagai (hal) penting untuk memahami kapitalisme, namun kategori-kategorinya unggul dalam hal arah kritik sistematis atas patriarki, yang mewujudkan dirinya di dalam kapitalisme, karena ia mampu memisahkan  elemen-elemen  patriarki yang spesifik secara histrois dari bentuk penindasan perempuan yang lebih umum, yang telah berlangsung di sebagian besar sejarah manusia. Dalam pengertian ini, kategori-kategorinya menyediakan sumber daya bagi teori feminis, atau setidaknya areal-areal bagi dialog baru, di suatu masa dimana kritik Marx atas kapital muncul ke permukaan sekali lagi.

Sedari awal di tahun 1844, dalam Economic and Philosophic Manuscriptsnya, Marx berargumen bahwa posisi perempuan dalam masyarakat dapat digunakan sebagai suatu tolak ukur perkembangan masyarakat secara keseluruhan:

Hubungan yang langsung, alami dan diperlukan, antara manusia dengan manusia adalah jugahubungan laki-laki [Mann] [1] terhadap perempuan [Weib]. Dalam hubungan spesies yang alami ini hubungan kemanusiaan [Mensch] dengan alam merupakan hubungan langsungnya dengan kemanusiaan [Mensch], dan hubungannya dengan kemanusiaan [Mensch] merupakan hubungan langsungnya dengan alam, dengan fungsi alaminya sendiri. Oleh karena itu, di dalam hubungan inisecara sensual diungkapkan, direduksi pada suatu fakta yang dapat dilihat, tingkat dimana sifat “dasar manusia” telah menjadi kodrati baginya. Dari hubungan ini keseluruhan level perkembangan kemanusiaan [Mensch] dapat dinilai. Selanjutnya dari karakter hubungan ini sejauh mana kemanusiaan[Mensch] telah menjadi, dan telah memahami dirinya sendiri sebagai, suatu spesies, seorang manusia.Hubungan antara laki-laki [Mann] terhadap perempuan [Weib] adalah hubungan yang paling alamiantar manusia dengan manusia. Oleh karena itu, ia mengindikasikan sejauh mana tingkah laku alamikemanusiaan [Mensch] telah menjadi manusia, dan sejauh mana esensi manusianya telah menjadi suatu esensi alami baginya, sejauh mana ‘sifat dasar manusia’ telah menjadi alami(ah) baginya. Itu juga menunjukkan sejauh mana kebutuhan kemanusiaan [Mensch] telah menjadi kebutuhan manusia,dan konsekuensinya sejauh mana kemanusiaan [Mensch], sebagai seorang individu, telah menjadi salah satu kebutuhannya, dan pada tingkatan apa eksistensi individualnya pada saat bersamaan menjadi (eksistensi) sosial. (Marx 2004, 103)

Sementara tentu saja ia bukan yang pertama membuat pernyataan semacam ini—Fourier sering dirujuk sebagai inspirasi bagi pernyataan ini—(namun) bagi Marx, ini lebih dari sekadar panggilan pada laki-laki untuk mengubah posisi perempuan. Melainkan, Marx sedang melakukan suatu argumentasi dialektis yang secara langsung berkaitan dengan keseluruhan teorinya atas masyarakat. Agar masyarakat maju melampaui bentuk kapitalisnya, suatu hubungan sosial yang baru harus sudah dibentuk yang tidak semata-mata bergantung pada formulasi yang mentah soal nilai. Manusia harus mampu melihat satu sama lain bernilai di dalam dirinya sendiri, ketimbang hanya bernilai berdasarkan apa yanga dapat diberikan seorang individu untuk individu lain. Dalam hal ini, perempuan, pada khususnya, akan signifikan karena mereka telah cenderung menjadi kelompok yang dimarjinalkan dalam mayoritas, jika tidak semua, masyarakat. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan harus mencapai satu titik kemajuan dimana seorang individu dihargai atas siapa mereka, ketimbang kategori abstrak apapun, seperti laki-laki, perempuan, dll.

Lebih lanjut, Marx tampak menunjukkan arah bahwa jender sebagai suatu yang dinamis ketimbang kategori yang statis. Tentu saja, Marx tidak pernah secara langsung menyatakannya, namun demikian, di dalam 1844 Manuscripts dan dalam The German Ideology (1846), ia memberikan kritik yang hebat sekaligus alternatif terhadap pandangan dualistik tradisional terhadap dualisme alam/manusia. Alih-alih alam dan masyarakat sebagai suatu entitas yang berbeda yang berinteraksi satu sama lain tanpa secara fundamental mengubah esensi dirinya sendiri atau manusianya, Marx berpendapat bahwa keduanya terkait secara dialektis. Karena manusia berinteraksi dengan alam melalui kerja, (maka) baik individu dan alam berubah (Marx 2004, 141-142). Ini terjadi karena manusia hidup sebagai bagian dari alam dan proses kerja memberikan media bagi penyatuan sementara semacam itu (Marx 2004, 140). Karena alam maupun masyarakat bukanlah suatu entitas statistik, Marx berpendapat bahwa tak bisa ada pengertian transhistoris[2] atas apa itu “alami”. Malah, konsep “alami” hanya dapat relevan bagi keadaan historis tertentu.

Sementara orang tidak semestinya menarik terlalu dekat paralelisasi antara dualisme alam/budaya dan dualisme laki-laki/perempuan—melakukannya dapat membawa pada reitifikasi[3] kategori-kategori yang kita hendak transformasi ini—pemikiran dialektis tertentu yang Marx tunjukkan dalam kaitannya dengan dualisme alam/budaya juga terbukti dalam pemaparan Marx dan Engels tentang pembagian kerja berdasarkan jender di dalam The German Ideology. Disini mereka menunjukkan  pembagian kerja di dalam keluarga awal sebagai sesuatu yang tidak semuanya “alami.” Melainkan, bahkan dalam pemaparan singkat mereka atas perkembangan keluarga, mereka tunjukkan bahwa pembagian kerja berdasarkan jender ini hanya menjadi “alami” bagi hubungan produktif yang belum berkembang dimana biologis perempuan yang berbeda membuatnya sulit melakukan tugas-tugas tertentu yang menuntut (kemampuan) secara fisik (Marx dan Engels 1998, 50, 51-52). Implikasinya adalah anggapan inferioritas perempuan di dalam masyarakat semacam ini merupakan sesuatu yang dapat berubah sebagaimana masyarakat berubah. Lebih jauh lagi, karena elemen sosial menyertainya, lebih banyak (hal) dibutuhkan ketimbang perkembangan teknologi; malahan perempuan harus berjuang sendiri untuk mengubah situasi mereka.

Sementara teks ini diperuntukkan pada kritik terhadap ekonomi politik, terdapat material yang cukup signifikan tentang jender dan keluarga di dalam Capital. Disini Marx kembali pada dan mengkongkritkan apa yang ia gambarkan sebagai penghapusan [Aufhebung] keluarga dalam Manifesto Komunis. Ketika mesin diperkenalkan ke dalam pabrik, membutuhkan tenaga kerja yang tidak terlalu menuntut kemampuan fisik, perempuan dan anak-anak menjadi kategori pekerja yang penting (Marx 1976, 517).Capital menganggap pekerja-pekerja ini secara khusus berharga karena mereka berasal dari kelompok tertindas yang dapat dipaksa bekerja dengan sedikit (biaya) .

Sejumlah paragraf lain di dalam Capital mengilustrasikan bahwa Marx memiliki lebih banyak pandangan yang bernuansa tentang posisi perempuan sebagai tenaga kerja ketimbang yang banyak diakui (kaum) feminis. Contohnya, ia menulis, ketika perempuan menjadi tenaga kerja, mereka berpotensi memperoleh kekuatan dalam kehidupan pribadi mereka karena mereka sekarang  berkontribusi secara moneter pada kesejahteraan keluarga dan tidak lagi dibawah kontrol langsung suami-suami mereka atau ayah-ayah mereka di sebagian besar waktu setiap hari. Ini memiliki dampak signifikan terhadap keluarga:

Namun demikian, bukanlah penyalahgunaan kuasa pengasuhan orang tua yang melahirkan eksploitasi langsung dan tak langsung atas tenaga kerja muda oleh kapital, malah kebalikannya, yakni eksploitasi model kapitalis, dengan menyapu bersih landasan ekonomi yang berhubungan (berkorespondensi) dengan kuasa pengasuhan, membuat penggunaan kuasa pengasuhan menjadi disalahgunakan. Seberapapun buruk dan menjijikkannya pembubaran ikatan keluarga lama di dalam sistem kapitalis itumungkin tampak, industri skala besar, dengan memindahkan satu bagian penting dalam proses produksi yang terorganisir secara sosial, diluar areal ekonomi domestik, kepada perempuan, orang-orang muda, dan anak-anak dari kedua jenis kelamin, biar bagaimanapun juga memang menciptakan suatu landasan ekonomi baru bagi suatu bentuk keluarga dan hubungan antar jenis kelamin yang lebih tinggi. Ini tentu saja sama absurdnya dengan menganggap bentuk keluarga Christian-Germanic sebagai yang absolut dan final seperti halnya yang terjadi dalam Roma kuno, Yunani kuno atau bentuk-bentuk Oriental, yang, kemudian, membentuk satu rangkaian dalam perkembangan sejarah. Juga sama jelasnya fakta bahwa kelompok kerja kolektif didirikan oleh individu-individu dari kedua jenis kelamin, dari semua usia, harus, di bawah kondisi-kondisi yang sesuai, berubah menjadi sumber bagi perkembangan manusiawi, meskipun dalam perkembangannya yang spontan, brutal, berwujud kapitalis, sistem itu bekerja dalam arah yang berlawanan, dan menjadi sumber yang berbahaya atas korupsi dan perbudakan, karena disini pekerja ada untuk (melayani) proses produksi, dan bukan proses produksi (melayani) pekerja. [Marx 1976, 620-621, tekanan ditambahkan]

Disini Marx menunjukkan kedua sisi dari perkembangan ini. Di satu sisi, jam panjang dan kerja malam cenderung melemahkan struktur-struktur keluarga tradisional karena perempuan pada tingkatan tertentu “termaskulinisasi” oleh kerja mereka dan sering tak mampu memelihara anak-anaknya pada tingkat yang sama dengan yang mereka telah lakukan di masa lalu. Di sisi lain, dalam bagian berikutnya, Marx mencatat bahwa hal yang tampak sebagai “karakter yang memburuk” ini mengarah pada arah yang berlawanan—menuju “bentuk keluarga lebih tinggi” (Marx 1976, 621) dimana perempuan akan menjadi setara yang sejati dengan laki-laki.

Meskipun pada saat-saat itu pembahasan Marx tentang penindasan perempuan pekerja agak terbatas, dalam Capital Vol I dan draf bahan awalnya untuk Capital ia menunjukkan kritik yang kuat atas konsep kerja produktif di dalam kapitalisme. Disini ia membuat pembedaan yang besar antara konsep kerja produktif dalam kapitalisme dan konsep kerja produktif yang sesungguhnya. Yang pertama adalah pemahaman dari satu sisi terhadap produktivitas, dimana faktor yang penting hanyalah produksi nilai lebih bagi kapitalis. Sedangkan konsep kerja produktif yang kedua berfokus pada priduksi nilai pakai/nilai guna (Marx 1976, 718). Disini kerja dinilai sebagaimana halnya jika ia memproduksi sesuatu yang dapat digunakan oleh individu-individu atau masyarakat secara luas. Ini setidaknya memberikan beberapa landasan untuk menilai kembali kerja perempuan tradisional meskipun Marx sangat sedikit membahas hal ini.

Menurutku di tahun-tahun terakhirnya, 1879-1833, adalah salah satu periode hidup Marx yang secara teoritis sangat menarik, khususnya mengenai jender dan keluarga. Dalam buku-buku catatan penelitiannya juga surat-suratnya dan tulisan-tulisannya yang dipublikasikan, ia mulai mengartikulasi model perkembangan sosial yang kurang deterministik, dimana masyarakat-masyarakat yang kurang berkembang dapat menjadi yang pertama melakukan revolusi selama ia diikuti oleh revolusi-revolusi di negara-negara yang lebih maju. Namun yang lebih penting terhadap studi ini, Marx menyertakan ke dalam teorinya subjek-subjek historis baru. Tidak saja kelas pekerja sebagai suatu entitas abstrak yang sangup (melakukan) revolusi. Namun juga, kaum tani, dan khususnya kaum perempuan menjadi kekuatan yang penting untuk perubahan dalam teori Marx. Buku-buku catatan ini memberikan beberapa indikasi, meskipun dalam cara yang fragmentatif, bagaimana Marx melihat perempuan sebagai subjek dalam proses historis.

Catatan Marx tentang Morgan secara khusus penting karena menyediakan suatu perbandingan langsung dengan karya Engels Origin of the Family dimana Engles mengklaim menjadi representasi yang relatif dekat dengan bacaan Marx tentang Ancient Society karya Morgan (Engels 1986, 35). Bukannya representasi yang dekat dengan catatan-catatan Marx, malah menurutku terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan. Yang paling penting diantara perbedaan-perbedaan itu adalah pengertian Marx tentang perkembangan masyarakat yang lebih tidak deterministik dan pemahamannya yang lebih dialektis terkait kontradiksi di dalam klan yang secara relatif egaliter.

Sementara Engels cenderung berfokus hampir semata-mata dan satu sisi pada perubahan ekonomi dan teknologi sebagai faktor-faktor dalam perkembangan kemasyarakatan, Marx mengambil pendekatan yang lebih dialektis dimana organisasi sosial bukan saja suatu faktor subjektif namun dalam situasi yang tepat dapat menjadi suatu faktor objektif sekaligus. Inilah yang secara khusus relevan untuk memahami perbedaan mereka terkait penindasan jender. Di sini Engles mengatakan bahwa perkembangan teknologi pertanian, kepemilikan pribadi, dan perubahan yang mengikutinya di dalam klan, dari hak-ibu menjadi hak-bapak, membawa pada “kekalahan historis dunia bagi jenis kelamin perempuan” dimana perempuan akan tetap berada dalam kondisi penundukan hingga penghancuran kepemilikan pribadi (Engels 1986, 87). Sebaliknya, Marx tidak saja mencatat posisi subordinasi perempuan, namun juga menunjukkan potensi bagi perubahan, bahkan di bawah kepemilikan pribadi, dengan pembahasannya tentang dewi-dewi Yunani. Meskipun masyarakat Yunani kuno cukup menindas perempuan, memenjara mereka hanya di dalam bagian rumah mereka, Marx berpendapat bahwa dewi-dewi Yunani berpotensi memberikan model alternatif bagi perempuan. Marx juga menunjukkan, dalam catatan-catatan ini, kemajuan perempuan-perempuan kelas atas Romawi, berseberangan dengan kawan Yunani mereka. Lebih lanjut, Marx cenderung mengambil pendekatan yang lebih bernuansa dan dialektis terhadap perkembangan kontradiksi di dalam masyarakat awal yang setara ini.

Walaupun tidak semua aspek-aspek tulisan Marx tentang jender dan keluarga relevan saat ini, dan beberapa membawa keterbatasan-keterbatasan pemikiran abad sembilan-belas, teks-teks ini memberi penerawangan penting terhadap pemikiran jender dan politik. Meskipun Marx tidak menulis banyak hal tentang jernder, dan tidak mengembangkan suatu teori sistematis terkait jender dan keluarga, (namun) baginya merupakan kategori yang sangat penting untuk memahami pembagian kerja, produksi, dan masyarakat secara umum. Aku telah mengatakan bahwa pemaparan Marx tentang jender dan keluarga jauh malampaui sekadar memasukkan perempuan sebagai pekerja pabrikan. Marx mencatat penindasan yang kuat dalam keluarga borjuis dan kebutuhan untuk mendirikan satu bentuk keluarga baru. Disamping karakternya yang fragmentatif dan kasar, catatan-catatan Marx tentang etnologi, pada khususnya, sangat signifikan, karena Marx menunjukkan secara cukup langsung karakter historis keluarga melalui seleksinya atas Morgan, Maine, dan Lange. Lebih lanjut, penggunaan dialektika Marx merupakan suatu kontribusi metodologis yang penting bagi feminisme dan penelitian sosial secara umum karena ia tampak memandang jender sebagai suatu subjek untuk diubah dan dikembangkan ketimbang sebagai suatu konsep yang statis.

Referensi

Engels, Friedrich.  1986.  [1884] Origin of the Family, Private Property and the State. New York: Penguin Books.

Marx, Karl.  1976.  [1867-1875] Capital, Vol. I.  New York: Penguin Books.

Marx, Karl.   2004.  [1844] The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844.  in Erich Fromm, ed., Marx’s Concept of Man.  New York: Continuum.

Marx, Karl and Friedrich Engels.  1998.  [1845-1846] The German Ideology.  Amherst, NY: Prometheus Books.

[1] Di sini saya memasukkan asal (istilah) Jerman untuk menunjukkan tempat-tempat dimana Marx merujuk pada individu laki-laki (Mann) atau perempuan (Weib) dan ketika ia merujuk pada kemanusiaan (Mensch). Ini dapat membantu untuk mengatasi bahasa yang agak seksis dalam penerjemahan (ke bahasa Inggris—pent) yang tampaknya tak dimaksudkan Marx dalam (manuskrip) Jermannya yang asli.

[2] Melampaui belenggu historis: http://www.merriam-webster.com/dictionary/transhistorical

[3] Menunjukkan seorang manusia sebagai suatu benda fisik ketimbang kualitas personal atau individualitasnya.

Diterjemahkan oleh Zely Ariane dari usmarxisthumanists.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s