Laporan Situasi Internasional

Laporan telah disetujui oleh IC Fourth International Februari 2012*

Garis besar laporan ini, dipresentasikan oleh Laurent Carasso atas nama Biro Fourth International dan diperkaya oleh diskusi, diadopsi oleh mayoritas anggota Komite Internasional  pada 25 Februari 2012.

Situasi internasional terus ditandai oleh suatu kekosongan perspektif di dunia kapitalis. Hampir lima tahun setelah dimulainya krisis sub-prime, sistem ini tak lagi bisa keluar dari krisis over-akumulasinya. Tekanan yang dilakukan oleh Bank dan pusat-pusat kekuasaan kapital untuk mempertahankan tingkat keuntungan, ditengah lemahnya pertumbuhan, hanya semakin memperburuk kondisi kehidupan rakyat. 

1.     Karakter krisis yang berkepanjangan dan mendunia telah terbukti

Pertumbuhan saat ini telah melambat di semua sektor dunia kapitalis:

Pindahnya krisis dari Bank-bank AS dan Eropa menjadi hutang yang berdaulat (sovereign debt)[1] dan defisit publik juga telah berkembang dan meluas.

Angka-angka ini mengindikasikan keseluruhan pelambatan pertumbuhan GDP, maupun resesi di zona eropa (Q4 of 2011, 2012), dimana zona tersebut mengalami krisisnya sendiri di dalam krisis, dengan karakteristik yang spesifik.

Dunia kapitalis takut bahwa dalam rantai terlemahnya, seperti zona eropa, mekanisme yang mengerikan sedang berlangsung: suatu pembalikan dari efek leverage (daya ungkit[2]), dimulai dari krisis finansial perbankan di zona eropa, yang akan memiliki dampak merantai (efek domino) di semua negeri terindustrialisasi, juga di negeri-negeri berkembang di Eropa dan diseluruh belahan dunia. Itulah pembenaran bagi injeksi ratusan milyar Euro oleh ECB (Bank Sentral Eropa) ke dalam cadangan penyimpanan Bank-bank Eropa.

Meskipun IMF memberi selamat pada dirinya sendiri atas tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 3,5% pada catur wulan ketiga tahun 2011, ramalan globalnya untuk tahun 2012 hanya 3,3% (1,3% bagi negeri-negeri maju).

Efek sosial krisis telah mengarah pada dua fenomena baru yang menandai tahun sebelumnya:

Kelanjutan gelombang syok revolusi di dunia Arab: Tunisia, Libya dan Syria, dimana dinamika sosial revolusi ini sedang terus berlangsung;

Fenomena kaum yang Marah (Indignant) di Eropa dan Occupy Wall Street di Amerika Serikat, menandai suatu gelombang baru dalam perpanjangan mobilisasi untuk keadilan global, namun itupun dengan karakteristik spesifiknya sendiri.

Krisis ekonomi dan sosial berkombinasi dengan mendalamnya krisis ekologi. Pemanasan global yang sedang terjadi sekarang merupakan suatu kenyataan tak terhindarkan. Kegagalan Pertemuan Tingkat Tinggi Durban di bulan Desember 2011 adalah manifestasi dari, dalam konteks ini, suatu luncuran tak terkendali menuju peningkatan bencana ekologi yang belum pernah terjadi pada dekade-dekade mendatang. Ratusan juta laki-laki dan perempuan sudah menderita konsekuensi dari tanah yang banjir dan multiplikasi fenomena keikliman yang membawa malapetaka. Kecenderungan ini akan terus meningkat di masa yang akan datang,  sementara sistem kapitalis bukan saja tak mampu mencegah evolusi ini, namun pada dasarnya justru bertanggung jawab atasnya.

Evolusi ini diperburuk oleh kebijakan deforestasi dan pengambilalihan sumber daya perairan, yang keduanya mengekpresikan dan menguatkan hubungan dominasi imperialis. Malapetaka Fukushima menunjukkan resiko yang tak terkalkulasi terhadap kemanusiaan yang ditunjukkan oleh pembangkit nuklir. Sumber energi ini yang secara tidak tepat ditunjukkan sebagai energi terperbarukan dan tidak menghasilkan gas rumahkaca, adalah pedang Damocles[3] yang menakutkan, dan selain Jerman, Swiss, Itali, dan Jepang, semua program nuklir terus dipertahankan dan enampuluh stasiun daya sedang dibangun di dunia saat ini.

2.     Krisis yang sistemik terbukti

Hingga tahun 2007, kapitalisme telah mengalami hampir limapuluh tahun suatu akumulasi dalam jangka waktu lama.  Setelah resesi di pertengahan tahun 1970-an, kapitalisme memperkenalkan kebijakan neokonservatif liberalisasi dan deregulasi yang membuat mungkin fase akumulasi ini diperpanjang selama 30 tahun selanjutnya.

Dari tahun 1990 hingga kini, rezim akumulasi dipertahankan atas dasar hutang swasta, dan, pada batas lebih rendah, hutang publik.

Sistem ini dibangun secara bertahap dengan memasukkan Cina ke dalam mekanisme akumulasi.

Penghancuran kapasitas produktif di Eropa dan Amerika Serikat telah ditebus oleh suatu pembangunan kapasitas produktif yang besar di Cina, yang hanya akan sangat parsial diserap oleh permintaan domestik. Mekanisme yang diberlakukan dimana Cina meyuplai baik kapital maupun komoditas ke pasar domestik AS, yang konsumsinya ditopang oleh  utang dan oleh pasar properti yang dinilai terlalu tinggi (overvalued).

Hari ini dua pilar krisis adalah: keterbatasan model ala AS serta krisis zona eropa dan Uni Eropa.

Berdasarkan kekuatan historis dan peran sentral bank-bank AS dan lembaga-lembaganya, Amerika Serikat telah membuat seluruh dunia membiayai defisit perdagangannya.

Mekanisme ini sekarang dihambat dan kita sedang menyaksikan suatu polarisasi perubahan progresif. Cina pada khususnya, sedang mencari cara menjual lebih banyak produknya di pasar domestik, dan mengekspor lebih banyak kapitalnya pada belahan dunia lainnya, mulai dari negeri-negeri berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Tampak jelas terjadi suatu penyeimbangan kembali sejak tahun 2007.

Di tahun 2011, kombinasi produksi di zona eropa dan AS baru kembali pada levelnya di tahun 2008. Pada periode yang sama, aktivitas ekonomi di negeri-negeri berkembang tumbuh sebesar 25 persen dan lebih dari 50 persen di Asia (India + Cina + ASEAN 5: Philipina, Thailand, Indonesia, Malaysia dan Singapore). Produksi nilai di tiga pusat aktivitas condong berkonvergensi, namun dengan dinamika yang berbeda:

Pengungkit ekonomi, seperti IMF dan Bank Dunia, seluruhnya masih berada di tangan kekuatan Amerika dan Eropa, dan hampir 80% kapital dalam bentuk saham tetap terkonsentrasi di negeri-negeri kapitalis maju (pada 50 kelompok yang memegang sebagian besar saham di kelompok-kelompok internasional lain, 24 diantaranya adalah Amerika, 8 Inggris, 5 Perancis, 4 Jepang, 2 Swiss, 2 Jerman, 2 Belanda dan hanya satu Cina) … namun di tahun 2010 negeri-negeri berkembang  memberi sumbangan atas 38,4 persen barang-barang ekspor, 57,8 persen cadangan modal asing, 52,5 persen emisi CO2, dan yang paling penting 83,5 persen populasi dunia.

Pergeseran yang sedang berjalan ini tak lagi sekadar demografi, namun industrial, komersial, dan finansial. Saat ini pusat zona-zona produksi telah berubah.

3.     Fokus lain dari krisis adalah di zona eropa

Saat ini IMF, Bank Dunia, kelompok-kelompok keuangan raksasa berada di sisi ranjang zonaeropa. Dunia kapitalis sedang khawatir: “Pemulihan dunia diancam oleh peningkatan ketegangan di zonaropa dan melemahnya wilayah-wilayah lain. Kondisi keuangan sedang memburuk, prospek pertumbuhan tumbuh dengan redup, dan resiko penurunan menghebat” (IMF- World Economic Outlook, 24.01.12). IMF saat ini berasumsi, dalam skenarionya yang paling optimis, akan terjadi resesi yang “moderat” di zonaeropa tahun 2012, dengan pertumbuhan rata-rata pertahun 1,5% di ekonomi-ekonomi paling maju. Resesi ini akan disebabkan oleh meningkatnya suku bunga pada surat utang negara, efek dari de-leveraging pada investasi dan dampak dari penyeimbangan ulang (re-balancing) anggaran.

Efek bumerang dari bangunan Eropa telah terkonfirmasi: dibelakang tekanan Bank-bank besar, melalui agen-agen pemeringkat kredit, untuk menyelamatkan aset-asetnya, yang meliputi sebagian besar hutang-hutang negara, krisis atas euro lah yang sedang dimainkan: Pilihannya ada di antara membagi beban hutang, yang berarti mengubah ECB menjadi sesuatu seperti the Fed, dan disintegrasi zonaeropa dengan berturut-turut keluarnya Yunani, Portugal,…

Karena tidak satupun dari dua solusi-solusi kapitalis ini dipilih, zona eropa kini tenggelam lebih dalam ke dalam krisis, melawan latar bayang-bayang resesi setelah lebih dari dua caturwulan  berturut-turut. ECB telah menggantungkan bank-bank utama Eropa pada infus, memberikan mereka pada musim semi ini, sekali lagi, transfusi ratusan milyar euro. Namun konsekuensi kongkrit dari situasi ini begitu dramatis bagi populasi Eropa: di dalam absennya peningkatan produksi dan tanpa investasi sektor keuangan yang menguntungkan, krisis ini sedang memproduksi suatu percepatan kebijakan yang menyebaban regresi sosial, atas dasar diktat yang ditetapkan oleh OECD dan IMF: pemotongan pengeluaran publik, kontra-reformasi di bidang pensiun sebagai alasan atas hutang, penurunan upah.

Agenda ini, saat ini, benar-benar menjadi suatu keharusan, sehingga anggaran akan tampak mampu memenuhi komitmen hutang-hutang berdaulat. Hal itu juga merupakan kesempatan untuk melengkapi kontra reformasi neoliberal yang telah dijalankan selama lebih dari 30 tahun terakhir.

Debat yang terjadi saat ini diantara kaum borjuis Yunani (namun juga di antara Kaum Kiri) menunjukkan bahwa tekanan kapitalis dilakukan dengan cara-cara yang semakin lama semakin tidak memperhitungkan faktor-faktor nasional.

Penajaman krisis terjadi lewat suatu krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Itali dan Yunani, dimana disinilah secara langsung Perancis dan Jerman, sebagai pemimpinan zona eropa, telah menurunkan dua pemerintahan dalam rangka memasang pemerintahan “teknis” dipimpin oleh mantan pegawai Goldman Sachs. Rencana terakhir “troika” (IMF, ECB, dan Komisi Eropa) telah baru saja diputuskan untuk meletakkan Yunani di bawah kontrol langsung. Krisis politik ini dapat menyebar dengan cepat ke Portugal dan Spanyol. Sekarang di Eropa, cakrawala kapitalisme diblok.

DI AS, kecenderungan paradoksal globalisasi adalah berpaling ke dalam, juga di Jepang ketika permintaan domestik memperlambat resesi… bahkan di negeri-negeri berkembang menyaksikan pelambatan dari aktivitas mereka dan hasrat untuk menguasai inflasinya.

Belum lagi, antara tahun 2007 dan 2009, harga-harga bahan mentah melonjak antara 20 dan 30 persen.

Jauh dari memperbaiki standar kehidupan di negeri-negeri ekspor, kenaikan spekulatif ini telah berarti, menurut statistik OECD, bahwa jumlah orang-orang yang menderita kelaparan ektrim melonjak dari 800 juta ke lebih dari 1 milyar, terjadi utamanya di Afrika dan kaum perempuan yang menjadi kepala dari keluarga-keluarga dengan satu orang tua.

Tekanan pada harga-harga pangan ini, disertai dengan efek langsung dari krisis keuangan, telah mempercepat krisis politik dan menggetarkan rezim-rezim politik di serangkaian negeri.

4.     Awal dari suatu proses revolusioner jangka panjang

Pergerakan yang mengarah pada penjatuhan Ben Ali dan Mubarak berakar kuat dalam aktivitas sosial pergerakan buruh, benar-benar terorganisir sebagai suatu kekuatan serikat buruh. Hingga sekarang, hasil pemilu dan peta politik dua negeri ini menunjukkan kurangnya sinkronisasi dengan realitas sosial. Namun gelombang pergerakan rakyat telah menyebar sepanjang tahun lalu, dari Libya ke Suriah, dan gerakannya jauh dari kelelahan.

Gelombang perjuangan rakyat berturut-turut, baik di Mesir dan Suriah, dan gerakan saat ini di Maroko dan Aljazair memberi kesaksian atas kedalaman pergerakan yang sedang berlangsung. penyebab sosial yang mendalam merupakan matriks atas dinamika ini, yang cukup kuat menggetarkan wilayah dunia dengan rezim despotik terbanyak.

Angka pengangguran diantara kaum perempuan di Afrika Utara dan Timur Tengah adalah yang tertinggi di dunia dan tingkat kaum muda yang menganggur dua kali lebih banyak di wilayah-wilayah termiskin seperti Asia Selatan dan Afrika sub Sahara.

Pertempuran yang sedang dikobarkan terjadi di beberapa tingkat: di tingkat regional melawan proyek imperialis di Timur Tengah raya, dengan Mubarak di Mesir sebagai kunci, yang sedang kolaps. Suatu busur politik baru dapat dibangun dengan Qatar, Muslim Brotherhood, dan beragam partai Islam. Tekanan saat ini terhadap Iran oleh Israel dan negeri-negeri Barat bertujuan untuk melawan destabilisasi dan isolasi negara Zionis, yang telah kehilangan sekutu terbaiknya.

5. Logika gerakan perlawanan yang sedang berlangsung

Fenomena the Indignant (kaum yang Marah) menandai tahun 2011. Mulai dari Portugal di masa bangkitnya revolusi Arab, pada 12 Maret, meletus pada 15 Mei di Negara Spanyol; lalu di bulan Juli dan Agustus di Israel, dan sejak September di AS. Dengan titik puncak pada 15 Oktober di beberapa ratus kota di seluruh dunia.

Pergerakan ini, apapun yang terjadi sekarang, menunjukkan kejahatan sosial kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah Barat melawan warganya sendiri, absennya perspektif yang ditawarkan aliran sosial demokrat, dan juga lemahnya respon dalam wujud mobilisasi oleh kekuatan gerakan sosial  dan buruh anti kapitalis, yang tampaknya tidak menjadi referensi alami bagi pergerakan ini.

Pergerakan ini, yang mengekspresikan aspirasi demokratik, terhadap kontrol, melawan kediktatoran ekonomi kapitalisme, nyata sekali politis, meskipun seringkali menolak partai-partai. Ia semestinya dilihat berhubungan dengan mobilisasi sosial yang masif oleh serikat-serikat buruh di banyak tempat di negeri-negeri Uni Eropa.

Mobilisasi sosial ini, seperti halnya juga pergerakan kaum yang Marah, merupakan kesaksian negatif atas krisis perspektif politik di wilayah itu.

Sementara kapitalismelah yang sedang ditempatkan di dermaga, dalam semua mobilisasi, kekuatan politik yang mampu menstrukturkan gerakan ini secara politik tampaknya berada pada tingkat kelemahan yang paradoksal.

6.       Perspektif aksi bagi kaum revolusoner

Perlawanan akan terus berlanjut di Eropa, di Maghreb, di Tumur Tengah, di Afrika, namun juga di negeri-negeri berkembang di Asia. Hal itu membuat semakin dibutuhkannya koordinasi, aksi yang bersatu dari organisasi-organisasi revolusioner dan anti kapitalis di wilayah-wilayah ini.

Namun perkembangan perlawanan yang terjadi ini dan akan terus terjadi, menimbulkan dalam prosesnya beberapa pertanyaan atas tata (dunia) pertama.

Yang paling penting tentu saja pertanyaan tentang isi, dari perspektif politik bagi perlawanan ini. Situasi ini tidak bisa dibandingkan dengan situasi pada dekade-dekade sebelum 1989, dimana setiap konflik regional masuk ke dalam konfrontasi antara AS dan USSR.

Pada situasi sekarang sebagian orang tergoda untuk mempertahankan cerminan blok masa lalu disekitar oposisi rejim-rejim tertentu terhadap kebijakan imperialis Amerika. Cerminan ini kadang telah membawa mereka pada posisi yang salah berdasarkan pada suatu misintepretasi terhadap revolusi Libya atau perlawanan rakyat Suriah. Namun demikian saat ini, apapun yang dipikirkan Hugo Chavez, tidak ada front anti imperialis yang melibatkan Ahmadi-Nejad (Iran), el-Assad (Suriah) dan Kim Jong-un (Korea Utara). Tak juga ada di Yunani jalan keluar bagi kaum buruh dengan berada dalam suatu persatuan nasional yang dibentuk sekitar penolakan terhadap euro. Namun dua contoh ini mengilustrasikan dengan baik persoalan kurangnya poin-poin referensi saat ini yang mampu mencakup semua jenis perlawanan dalam suatu perjuangan, yang dapat memimpin pada suatu alternatif global terhadap sistem kapitalis, menjawab persoalan programatik, militansi, dinamika organisasional pergerakan perlawanan saat ini.

Pertanyaan lain jelas adalah pada konsekuensi dari pemindahan pusat produksi industri. Paling pertama adalah meledaknya kerawanan dan penghancuran sosial di kota-kota metropolis kapitalis, dengan konsekuensi sosial yang jarang kita lihat dalam beberapa dekade terakhir. Namun juga, di Asia, penstrukturan kelas pekerja kota yang masif, yang secara gradual menjadi semakin sadar atas tuntutan bersama dan kekuatannya.

Ayunan pendulum bukanlah permainan zero-sum: apa yang sedang dikalahkan di Eropa Barat tidak ditemukan di Asia. Pergerakan buruh adalah suatu konstruksi politis, bukannya suatu realitas sosiologis objektif yang sederhana. Saat ini, tantangan penciptaan suatu identitas politis dalam kelas-kelas pekerja baru ini bersifat kolosal, sementara “pergerakan buruh” tidak satupun merepresentasikan masyarakat alternatif internasional terhadap kapitalisme.

Dua puluh lima tahun setelah jatuhnya Tembok Berlin, kita akan salah jika melihat kurangnya kredibilitas dalam alternatif sosialis hanyalah konsekuensi atas penolakan “sosialisme yang sedang ada” milik negara-negara Stalinis.

Tentu saja hal itu masih mendesakkan pengaruh, namun itu hanya menambah bobot negatif yang diwakili oleh neraca semua pemerintahan sosial demokrat di Eropa, Asia, dan Amerika Latin, pemerintah-pemerintahan yang disekitarnya seringkali kita temukan bersekutu dengan partai-partai radikal tak mampu memberi suatu strategi independen.

Sehingga tantangannya bagi kaum revolusioner dan antikapitalis, lebih dari sebelumnya, semakin jelas, yakni menciptakan suatu alternatif sosial dan politik yang memberi respon pada aspirasi dan pemberontakan rakyat yang dipukul oleh krisis dan kemiskinan.

Bulan-bulan dan tahun mendatang akan ditandai oleh dampak-dampak lingkungan dan sosial dari krisis sistemik yang sedang kita lalui di semua wilayah dunia.

Ketidakseimbangan saat ini akan terus berlanjut melemahkan rakyat, namun juga struktur-struktur negara: revolusi Arab, demikian juga krisis di Yunani dan Itali, menjadi saksinya.

Sehingga keresahan sosial akan terus meningkat, mencari jalan untuk mengekspresikan dirinya.

Tantangan sebenarnya bagi aliran antikapitalis adalah (bagaimana) mewujud di dalam jantung mobilisasi ketika ia berkembang, agar mampu mengajukan pada pergerakan ini program-program politik dan sosial, yang mampu memberikan mereka keterpaduan dan perspektif.

Hegemoni politik dari kekuatan relijius konservatif saat ini di dalam pemilu di Mesir dan Tunisia, juga bangkitnya nasionalis dan aliran ekstrem kanan di Eropa, menunjukkan tantangan yang menghadap pada kita.

Aspek paling jelas dari tantangan ini adalah bahwa respon progresif apapun terhadap krisis sekarang menghendaki gugatan global terhadap, dan penantangan atas, masyarakat kapitalis. Dari situ, berkeyakinan atas kemungkinan maju dengan sukses di arah ini akan penting bagi kemampuan kita dalam merespon. Sehingga menjadikannya penting  untuk menstrukturkan kekuatan politik pada level internasional dan memastikan bahwa mereka mengajukan respon politik pada level ini.


* diambil dari http://www.internationalviewpoint.org/spip.php?article2568 diterjemahkan oleh Zely Ariane

[1] Sayrat-surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah nasional dalam mata uang asing, untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Hutang yang berdaulatpada umumnya merupakan investasi yang lebih riskan ketika berasal dari negara berkembang, dan investasi lebih aman jika datang dari negeri maju. Stabilitas pemerintah yang menerbitkannya adalah faktor penting untuk dipertimbangkan, ketika mengasesmen resiko menginvestasi dalam hutang berdaulat, dan pemeringkatan kredit berdaulat membantu investor menimbang resiko ini. Diambil dari http://www.investopedia.com/terms/s/sovereign-debt.asp#ixzz1ucHGTpZG (pent)

[3] Pedang Damocles adalah idiom yang dipakai untuk menjelaskan ancaman yang terus menerus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s