Kritik Sebagai Roda Penggerak Kesadaran Politik

Anom Astika, Peluncuran Jurnal Problem Filsafat

Sambutan Setengah Virtual Setengah Verbal untuk Peluncuran JURNAL PROBLEM FILSAFAT

Anom Astika

Jakarta, 20 Agusutus, 2011

Kawan,

Mulai hari ini kita hidup dan tumbuh menurut terang. Yang tak seharusnya redup pendar-pendarnya. Yang bukan lahir dari asas-asas sesal maupun garis-garis dendam akan masa lalu. Namun ia dibangun dari keraguan-keraguan yang didasarkan atas pemahaman terhadap realitas. Baik itu realitas teoritik, maupun realitas praktis seluruhnya tetap harus dijadikan dasar bagi rumusan terang itu sendiri. Sehingga tak serampangan kita memahami realitas. Pun tak seenaknya sendiri kita menutur itu abstrak, itu kongkret, lantaran sesuatu yang kongkret bisa lahir karena proses abstraksi, dan begitu pula sebaliknya. Tak ada cerita sebuah simpulan bisa lahir tanpa proses-proses kategorisasi, konseptualisasi, elaborasi, problematisasi, maupun hal-hal lain. Semuanya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pasti kan perih dirasa bagi benak para perusuh pikiran yang bersembunyi di balik cita-cita Keamanan dan Ketertiban (rust en orde), lalu dipernis lagi dengan cat Perdamaian dan Keberagaman, jika harus berhadapan dengan terang yang kita kehendaki. Karena terang ini kan menangkis teluh-teluh kebebasan para pandita gelap Orde Baru, menumpas bijak kata-kata surgawinya yang berujung seruan membayar kredit cicilan perlengkapan dapur rumah tangga. Ia kan menolak seruan agar rakyat negeri ini hidup dalam ritus-ritus apatisme makan beling di balik cerita-cerita tentang pribadi-pribadi dasalomba; yang gemar berlari, melompat, melempar lembing, galah, cakram ke seluruh penjuru seteru diri sejati. Itulah ritus-ritus yang dikembangkan oleh industri motivator jiwa, sekolah kepribadian, dan yang sejenisnya yang bertujuan membentuk manusia menjadi petarung bagi sesamanya melalui bisnis multilevel marketing, yang menolak pengorganisasian kerja di luar struktur kapitalisme, dan yang mengesahkan kultur buruh isi ulang atau outsourcing. Sehingga rasionalitas dan problem-problem perbedaan pendapat sebagai dasar pembentukan pemikiran modern pun kian lama kian ditolaknya.

Terang yang kita kehendaki tidak pernah anti dengan psikologi, tetapi enggan bercengkrama dengan psikologisme Schopenhauer. Psikologisme yang dipuja oleh komponis Richard Wagner dengan dominasi brass section dalam semua orkestrasinya, dan dibenarkan kemudian secara teoretik oleh Heidegger. Serupa filosofi diri manusia yang terjebak di parit parit perlindungan medan tempur Perang Dunia I di Eropa; selalu mengandaikan manusia berada di tubir jurang sambil memanggul salib nasib. Serupa pemuda Hitler (ingat bukan pemuda Marx!) yang selalu menggerutu atas krisis ekonomi Jerman, dan menemukan pencerahannya dalam opera-opera Wagner yang dilihatnya ratusan kali, demi menjadi preman tukang pukul kaum burjuis Jerman. Sementara pada saat yang sama generasi baru komponis Eropa yang dipimpin oleh Bela Bartok, Leos Janacek, dan Maurice Ravel, sudah bosan dan muak dengan gaya-gaya Wagnerian Jerman, mulai menggali musik, menggali suara dari nada-nada sengau anak-anak pegunungan Moravia, ataupun menalar ritmik tari-tarian rakyat Basque. Bagaimana psikologisme menjelaskan dua perkembangan unik ini? Tidak ada kecuali penghargaan atas keunikan individu dengan mengabaikan dimensi keberdayaan manusia sebagai kolektif yang berkemampuan melakukan perlawanan atas berbagai situasi yang mengungkung.

Jelas terang yang akan kita turut adalah yang selalu menumpuk bukti bahwa memang tak pernah ada musim gugur di Boyolali. Ia pun sulit membayangkan musim semi di Rengasdengklok. Apalagi tarian lincah pucuk-pucuk pepohonan jati di Kendalpayak. Ia lah terang yang kan selidik menyidik dari mana asal-muasal tanah subur di daerah kapur selatan Jawa Timur. Boleh jadi dari humus kubur korban kekerasan 1965, di Blitar Selatan. Ia terang yang suka bahasa indah, tapi tak mengandaikan tampilan yang indah adalah esensi dari segala-galanya. Ia adalah terang yang terus berkelana dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain dalam dimensi dialektika gerak materi dan forma.

Tanpa dialektika itu yang ada sebatas ode maupun epik tentang para perwira tinggi militer yang berhasil menyelamatkan bangsa dari kekacauan, tetapi sejatinya justru meluhursucikan kuasa atas benak, tubuh, dan tindakan sosial, politik, ekonomi, dan budaya rakyat negeri ini. Tentang para begawan yang tak usai-usainya menekankan tentang pentingnya mengerti cara-cara menghadapi tekanan hidup, bersiasat menatap kegelapan, tanpa pernah mau menjelaskan darimana asal muasal dari semua yang membuat rakyat tak sejahtera, dan selalu dilanda krisis. Tentang para teknokrat yang keruh menatap dunia tetapi keluar dengan gagasan tentang sistem baru yang sama korupnya dengan yang sebelumnya. Seumpama ungkap Marx dalam The German Ideology, “Jangan pernah bertanya berapa harga jual badanmu kepada para pemilik modal, tetapi bertanyalah kepada sepupu agama dan sepupu etika, pasti mereka kan menganjurkanmu untuk bekerja”. Sebuah tautologi kapitalisme yang tak selalu dapat dijelaskan oleh psikologisme.

Tentunya, bukan itu terang yang kita inginkan. Melainkan terang yang menalar dari pengalaman sejarah, yang menulis cerita dari ruang-ruang sosial masyarakat, dan yang menukas gelegar berlawan dalam kolektivitas gerak tubuh dan olah pikiran. Terang yang demikianlah yang akan kita ikuti, kita ciptakan, dan kita pelihara, agar sejarah tak pernah henti melangkah. Ia kan melahirkan cerita tentang ibu-ibu buruh cuci setrika (bucek) yang bergotong-royong menghidupkan posyandu dan tempat-tempat penitipan anak di sudut kampung Jelambar. Ia kan meludahi berita-berita opini tanpa fakta lewat berbagai kisah tentang upaya kaum buruh memperjuangkan hak-hak ekonomi dan politiknya dari hari ke hari, dari kampung ke kecamatan, dari jalanan ke gedung-gedung parlemen daerah dan nasional. Ia terang yang akan menelanjangi pernyataan-pernyataan politik yang menipu rakyat. Sekalipun dengan bahasa yang cantik dan membuai jika itu menyesatkan, memang sudah seharusnya dibongkar niat busuknya. Pun di sana kan berlabuh semua perbedaan pendapat dan penyusunan gagasan dari berbagai bidang kajian politik, ekonomi, sosial, budaya maupun kajian-kajian humaniora, dengan landas epistemologi politik demi menata kerukunan-kerukunan politik perubahan sosial. Sehingga tak ada lagi cerita tentang reka-reka teoretik yang tidak berbasis pada realitas empirik, maupun realitas historis. Sudah bukan jamannya lagi menari-nari di atas gejala-gejala tanpa mengerti akar ekonomi-politik dan latar historis dari masing-masingnya.

Bolehlah kita kemudian tetap menyanyikan lirik Ku Pinta Lagi karya Cornel Simanjuntak, “Ku lihat terang meski tak benderang”, atau pun “bangun dan berdiri rakyat semua” dari lagu Di Timur Matahari, karya Maladi. Ia harus berbunyi sebagai harap dan semangat untuk masa depan yang lebih baik. Setidaknya kita paham keduanya lahir dari pemahaman atas realitas ekonomi yang semakin hari semakin menyengsarakan rakyat. Sehingga kita tidak perlu setiap kali merasa yatim piatu lalu mencari-cari bunda yang mau merelakan darah juang kita, dan kita tahu kepada siapa kita berbakti.

Kawan,

Selanjutnya adalah kerja. Tepatnya adalah kerja bersama. Sepanjang sejarah, kerja bersama ini memang tidak mudah. Selalu saja, realitas kerja bersama ini kerap dihadapkan pada kecemasan akan keterpecahan. Sehingga ada usulan harus ada persatuan. Mengapa, karena ada keterpecahan. Pun sebaliknya, keterpecahan ada karena tidak ada persatuan. Mengapa ada keterpecahan dan sekaligus juga persatuan, entahlah, yang jelas bukan salah bunda mengandung, tetapi mungkin ayah yang sering ke panti pijat. Demikianlah kesimpulan dari dialektika Hegelian, yang selalu berangkat bukan dari peristiwa tetapi dari asumsi-asumsi logis tentang apa itu aksi dan apa itu reaksi terhadap peristiwa-peristiwa yang tak sepenuhnya dipahami dengan cermat.

Apapun yang kita kerjakan bersama harus berangkat dari realitas. Realitas upaya pendokumentasian sejarah mereka yang dipinggirkan, dan pengorganisasian guru-guru sejarah sebagaimana yang dilakukan oleh kawan-kawan Institut Sejarah Sosial Indonesia. Realitas upaya pengorganisasian pendidikan di basis-basis perlawanan rakyat sebagaimana yang sudah dilakukan oleh mereka yang berlibat dalam Prakarsa Rakyat. Realitas pengorganisasian masyarakat miskin kota sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Serikat Rakyat Miskin. Realitas pengorganisasian seniman, mahasiswa, buruh, tani dan nelayan sebagaimana yang sudah dilakukan oleh kawan-kawan Partai Rakyat Demokratik, Perhimpunan Rakyat Pekerja, Partai Pembebasan Rakyat maupun organisasi perlawanan lainnya, tanpa menutup mata akan tumbuhnya kerja-kerja pengorganisasian alternatif di organisasi-organisasi tradisional. Realitas kerja-kerja politik dari mereka yang berada di parlemen dan pemerintahan, di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun informal, maupun di berbagai institusi lainnya. Tak ketinggalan realitas studi epistemologi politik yang kini sedang dikerjakan oleh kelompok AGITPROP. Semuanya adalah derap kerja, sebagai derap upaya menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru tentang perlawanan.

Seluruhnya, dengan segala keragamannya, tidak selalu mengandaikan penyatuan organisasional, agar kita tak selalu terjebak dalam dikotomi persatuan dan perpecahan. Sebuah dikotomi yang sarat dengan tindak sundut-menyundut ide tentang siapa yang lebih Kiri daripada sesamanya. Begitu rumitnya sundut-menyundut ini sampai pembuktiannya turun pada level perilaku anggota-anggota organisasi. Bagaimana mungkin kita dapat melahirkan pengetahuan baru tentang perlawanan jika sebagian besar perdebatan yang terjadi diantara organisasi-organisasi perlawanan dari dulu hingga sekarang adalah siapa yang pernah kentut dua kali dalam sebuah diskusi untuk membuktikan apakah dia benar benar Kiri atau bukan? Tentunya kita harus mulai berpikir bahwa keragaman yang tersedia saat ini selalu mengandaikan adanya ruang untuk bertukarpikiran, berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan, untuk memungkinkan lahirnya kerja bersama melahirkan pengetahuan baru.

PROBLEM FILSAFAT hadir sebagai ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan. Ia hadir untuk menginterogasi pengalaman kerja politik, dan menguji penelitian kawan-kawan dalam aras epistemologi politik. Ia hadir untuk membantu merumuskan secara sistematik bahwa kerja-kerja yang sudah dilakukan kawan-kawan tidak pernah sia-sia dan merupakan pijak untuk ke kerja yang lebih maju. Ia hadir untuk mengajak kita semua mulai berpikir bahwa membangun gerakan, adalah upaya pencarian kebenaran secara ilmiah (scientific truth). Pangkalnya bukan komunikasi, tetapi pangkalnya adalah laporan kerja tekun dan kerja kobar untuk melahirkan pengetahuan baru tentang perlawanan dari berbagai dimensi ilmu pengetahuan, melalui metodologi penyelidikan, analisa, dan penyimpulan yang tepat. Terucap ungkap Martin Suryajaya kemudian, “Pangkalnya adalah persatuan epistemik”. Pangkal ini selalu menuntut keberagaman di tingkat praktis demi arah pembebasan rakyat yang seiring. Harus melalui dialog, tukar pikiran baik lisan maupun tertulis, agar menjadi bekal bagi mereka yang garang, bandel, murtad, di tengah iklim liberal konservatif untuk tetap berpikir tentang perubahan sosial bagi rakyat negeri ini.***

 

Iklan

One thought on “Kritik Sebagai Roda Penggerak Kesadaran Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s