Berjuang untuk Sosialisme = berjuang untuk demokrasi

Koran Pembebasan Edisi I Juli-Agustus 2011

Bebaskan 30 aktivis PSM!

Zely Ariane[1]

“Tetaplah kuat (berjuang), karena akan membuatku tambah kuat.

Kari ayam yang mereka kasihkan (dipenjara) telalu berminyak.”

Sarat Babu al Raman, Ketua Socialist Youth PSM, dipenjara sejak 25 Juni 2011

 

Pada tanggal 25 Juni 2011 para aktivis dan pendukung Partai Sosialis Malaysia (PSM) melakukan kampanye “Udahlah, Bersaralah…” (Sudahlah, Lengserlah…) tahap pertama. Kampanye ini dimulai dari tanggal 24-26 Juni 2011 bertujuan untuk melakukan penyadaran nasional agar rakyat berani melakukan perubahan dalam pemilihan umum Malaysia mendatang. Selebaran-selebaran dan alat-alat penyadaran lainnya dipersiapkan untuk memberikan pendidikan pada rakyat tentang kenyataan dan rekam jejak 54 tahun kekuasaan rezim Barisan Nasional, di bawah Perdana Menteri Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak. Para aktivis juga melakukan dialog langsung dengan rakyat terkait muatan selebaran yang mereka sebarkan.

Kampanye ini juga bertujuan mendukung aksi kampanye turun ke jalan BERSIH #2 pada 9 Juli 2011. BERSIH #2 adalah nama persatuan 62 organisasi non pemerintah yang disebut Koalisi untuk Pemilu Bersih dan Adil. Koalisi ini menyerukan semua pihak (termasuk semua partai-partai politik) untuk berpartisipasi pada reli untuk demokrasi tanggal 9 Juli 2011. Namun demikian, tentu saja, partai koalisi penguasa, Barisan Nasional (BN), menolak seruan tersebut.

Para aktivis dan pendukung PSM dibagi menjadi dua tim yang masing-masing menangani bagian selatan dan utara Malaysia. Masing-masing tim dipimpin oleh pimpinan-pimpinan nasional PSM. Tim bagian selatan, yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PSM Arutchelvam, sudah lebih dulu ‘disambut’ polisi ketika akan memulai aksinya di Kangkar Pulai, Johor. Bahkan sejak malam sebelum kampanye dimulai polisi sudah mulai mengerumuni gedung tempat para aktivis bermalam. Mereka melawan tekanan polisi dengan konferensi pers pada malam itu juga dan kemudian melanjutkan kampanye di gedung di lain.

Paginya, pembagian selebaran yang sedang dilakukan oleh 40 orang di areal tersebut kemudian dilarang polisi karena isi selebaran dianggap menghasut. Polisi juga mengancam akan menangkap para aktivis. Namun intimidasi dan ancaman tersebut tidak menghentikan aktivitas kampanye para aktivis PSM, bahkan melanjutkannya ke kawasan lain di Simpang Ranggam. Bis-bis yang mereka tumpangi dikawal ketat polisi, bahkan dihadang oleh beton-beton penghadang jalan. Namun pembagian selebaran dapat terjadi di berbagai lokasi di kawasan itu, bahkan sempat difasilitasi dialog terbuka oleh PAS—Partai Islam se-Malaysian. Penghadangan, lusinan kamera dan video kamera polisi dsertaan intimidasi yang dilakukan setiap menit dan setiap jengkal terhadap aksi PSM ini tidak menghentikan semangat aksi tersebut.

Di Kluan, lokasi lain, ketika tim Kangkar Pulai dan Simpang Ranggam melakukan aksi selebarannya, 7 aktivis PSM, termasuk anggota Komite Sentral Letchimi Devi, ditahan. Alasan penahanan adalah karena pembagian selebaran, walau tak ada dasar hukum apapun untuk menangkap rakyat karena membagi selebaran. Tim Simpang Ranggam juga sempat melakukan dialog di kantor PKR (Partai Keadilan Rakyat) yang difasilitasi oleh PKR dan Partai Aksi Demokratik (DAP). Kemudian mereka meneruskan perjalanan untuk melakukan solidaritas pada 7 orang yang ditahan di Kluan.

30 aktivis PSM dipenjarakan, 6 diantaranya di bawah ISA

Rupa-rupanya penangkapan yang dilakukan pada 25 Juni di Kluan, meluas juga ke Kepala Batas, Penang, dan lokasi-lokasi lain, karena mendistribusikan selebaran serupa. Dalam rilisnya pada tanggal 28 Juni, Arutchelvan, Sekretaris Jenderal PSM, menyebutkan terdapat 30 orang aktivis PSM yang saat itu ditangkap dan ditahan di tiga tempat terpisah. Beberapa diantaranya adalah pimpinan-pimpinan sentral PSM, termasuk Dr, Jeyakumar –satu-satunya Anggota Parlemen dari PSM, Choo Chon Kai—Koordinator Internasional PSM, Letchumanan—Sekretaris cabang PSM Sg. Siput, M.Sarasvathy—Wakil Ketua Nasional PSM, dan Soh Sook Hwa—Anggota Komite Sentral PSM.

Ketigapuluh aktivis PSM, pada awalnya, dikenai pasal 122 undang-undang pidana (melakukan perang melawan Monarki dan mencoba mengembalikan ideologi komunis) dan ditahan selama 7 hari. Berita bahwa PSM mencoba menghidupkan kembali komunisme didasarkan pada kaos-kaos pemimpin kiri yang ditemukan di bis yang membawa aktivis-aktivis PSM. Berita-berita menyangkut PSM hendak menghidupkan kembali komunisme segera tersebar menjadi cerita utama di semua koran arus besar lokal.

Berita-berita semacam ini memang ditujukan untuk menyebarkan ketakutan akan hantu komunis—suatu taktik yang biasa digunakan di masa lalu untuk menyerang para aktivis—ketimbang fakta. Dan lucunya, ketakutan ini disebarkan di tengah fakta bahwa pemerintah Barisan Nasional sendiri memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan berbagai Partai Komunis di dunia. Selain itu, pemerintah sendiri sudah lama menandatangani persetujuan damai dengan MCP (Partai Komunis Malaysia/PKM).

Sehingga, menurut Arutchelvan, fakta-fakta ini justru menunjukkan bahwa memunculkan kembali hantu komunis pada era pasca perang dingin adalah langkah putus asa rejim UMNO-Barisan Nasional untuk mempertahankan kekuasaan dari serangan, sambil menanamkan ketakutan dikalangan rakyat, sekaligus menjustifikasi penggunaan Internal Security Act (Akta Keselamatan Dalam Negeri). Karena absurdnya tuduhan tersebut, Partai Keadilan Rakyat (PKR),  sebuah partai oposisi pendukung Anwar Ibrahim yang populer di Malaysia pun, yang pernah menjadi korban dari ISA, melayangkan pernyataan protesnya terhadap penggunaan pasal 122 ini.

Tujuan politik Pemerintah Barisan Nasional yang sebenarnya akhirnya terbongkar pada tanggal 2 Juli 2011 ketika keseluru aktivis PSM yang seharusnya dikeluarkan karena telah sampai batas waktu penahanan, tidak dikeluarkan. Malahan 6 pimpinan utama PSM: Dr. Kumar, Chon Kai, Sugu, Babu, Saras, dan Letchu, dipenjarakan kembali di bawah EO (Emergency Ordinance), dan sisanya masih ditahan dan baru beberapa orang saja dikeluarkan.

Dalam rilisnya, PSM menegaskan bahwa penahanan melalui EO (selama 60 hari tanpa peradilan) sama sekali tidak masuk akal, karena semua landasan penahanan pun tidak ada yang cocok dengan kasus yang terjadi. Dan memang perlakuan yang mereka dapatkan sudah layaknya tahanan ISA ketimbang EO, seperti, dipenjarakan secara terpisah, ditutup mata, diperiksa di bawah unit khusus, dsb. Oleh karena itu, PSM menegaskan penahanan itu sendiri berarti illegal, tidak sah, karena ketiadaan kejelasan hukum.  Sehingga, bila negara cukup bodoh, maka satu-satunya “kesalahan” yang dapat dituduhkan pada mereka hanyalah karena menjadi sosialis.

Penggunaan ISA[2] sendiri telah lama menuai protes oleh berbagai gerakan demokratik di Malaysia. Dan pemerintah Barisan Nasional telah lama mendapat sorotan karena undang-undang yang sangat anti demokrasi tersebut. Sehingga, menurut Arul, pemerintah memilih pusar-pura menggunakan EO sebagai topeng penangkapan, dan 6 aktivis PSM dijadikan eksperimen metode baru ini sebagai bagian pemberangusan kebebasan sipil dan berekspresi yang lebih besar di Malaysia.

Sejak awal PSM sadar bahwa aksi menyerang PSM ini merupakan aksi terencana dengan sistematis oleh pemerintah untuk menciptakan musuh buatan dengan tujuan menghadirkan situasi “darurat”, dimana pemerintah dapat menjustifikasi penggunaan ISA, serta melakukan serangan masif untuk menghentikan reli Bersih #2 pada tanggal 9 Juli, yang telah mendapatkan momentum dan dukungan dari massa.

Sejak PSM dilegalisasi, setelah 10 tahun lebih berjuang menuntut pengakuan dari tahun 1998, pengkambinghitaman terhadap komunis atau sosialis baru dilakukan belakangan, ketika rezim berkuasa menyadari bahwa kekuasaan kelasnya sedang mendapatkan dukungan rakyat untuk dijatuhkan. Dan PSM adalah kekuatan kiri sosialis yang paling depan berjuang bersama rakyat untuk demokrasi dan kesejahteraan melawan rezim penguasa Barisan Nasional-UMNO.

Solidaritas dan kepentingan kita

Karakter represif pemerintahan dan polisi Malaysia tidak asing bagi kita, apalagi para Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Ketika rakyat Indonesia berhasil menjatuhkan diktator Soeharto tahun 1998, rakyat Malaysia belum berhasil menjatuhkan diktator sahabat Soeharto, Mahatir Muhammad, di Malaysia. ISA yang masih terus bercokol, dan kekuasaan UMNO yang selama puluhan tahun tak tergantikan, adalah sebagain wujud watak anti demokrasi negara Malaysia. Setiap peluang pembukaan ruang demokrasi di Malaysia artinya peluang pula bagi kehidupan yang lebih baik jutaan TKI kita di sana.

Penggunaan ISA juga sering dijadikan inspirasi oleh para penguasa anti demokrasi di negara kita, apalagi di tengah kenyataan bahwa kekuatan anti demokrasi sisa Orde Baru, watak militerisme, dan larangan serta propaganda hitam terhadap komunisme (dan sosialisme) tak berhasil kita hancurkan pasca reformasi 1998. Sehingga kegagalan perjuangan demokrasi di Malaysia, artinya mimpi lebih buruk lagi bagi masa depan demokrasi di tanah air.

Aksi di depan Kedubes Malaysia, Jakarta.

Untuk itu, KPRM-PRD bersama organisasi kiri lainnya melakukan aksi solidaritas di depan kedutaan besar Malaysia di Jakarta pada 1 Juli lalu. Tuntutan kita adalah agar pemerintah Malaysia segera menghentikan pelecehan dan pelanggaran kebebasan berekspresi dan membebaskan semua aktivis PSM tanpa syarat; menghentikan semua bentuk represi dan intimidasi terhadap rakyat Malaysia dalam menjalankan hak-hak demokratiknya.

Solidaritas ini harus kita lanjutkan!


[1] Aktivis Partai Pembebasan Rakyat; anggota Perempuan Mahardhika.

[2] ISA adalah hukum “penahanan pencegahan” di Malaysia. Hukum ini telah ada sejak Malaysia merdeka tahun 1957. ISA melegitimasi penahanan tanpa pengadilan atau tuntutan pidana di bawah situasi tertentu yang didefinisikan secara hukum. (Wikipedia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s