Program, Prinsip dan Metode Politik Rakyat Miskin

“….saya sungguh berharap, generasi muda sekarang akan menghancurkan orde baru, hingga ke akar-akarnya, hingga ke begundal-begundalnya yang paling rendah sekalipun..”—Pramoedya Ananta Toer.

Cengkraman/dominasi/ekploitasi/penjajahan yang dilakukan oleh modal asing terus saja berlanjut di negeri kita. Dengan cepat modal asing menjarah kekayaan alam kita—tambang, hutan, kekayaan laut bahkan menjarah sumber-sumber mata air kita. Modal asing dengan cepat pula menjarah asset-aset vital lainnya—telekomunikasi, listrik, farmasi hingga pendidikan.

Dan demi keuntungan yang lebih besar, rakyat Indonesia—pun kaum pekerjanya dihisap—dijadikan buruh kontrak, outsourching dengan upah murah, tanpa jaminan kesehatan, tanpa jaminan pensiun, tanpa jaminan apa-apa. Sekadar bekerja keras untuk kepentingan modal, yang sewaktu-waktu bisa di-PHK, itupun tanpa pesangon. Labour Market Fleksibility (LMF)(pasar tenaga kerja yang fleksibel), begitu istilah mereka.

Itupun belum cukup bagi Modal Asing, Indonesia, dengan 220 juta penduduknya, juga menjadi sasaran utama bagi produk-produk modal Asing—dari kebutuhan teknologi yang maju hingga kebutuhan pokok sehari-hari rakyat kita—hingga semakin hari semakin tergantung pada asing. Termasuk hancurnya martabat bangsa kita, dari bangsa yang pernah mandiri, menjadi bangsa kuli.

Namun rakyat tidak pasif, tidak diam saja, sekalipun pemerintah sekarang—pemerintahan SBY-JK yang utamanya di dukung oleh partai-partai sisa Orde Baru (Partai Golkar, PPP) dan partai reformis gadungan (Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera, PAN, PBR, PBB, PDS)—beserta partai reformis gadungan lainnya (PKB, PDI-P) tidak punya keberanian melawan modal Asing, bahkan ecara suka rela menjadi antek-anteknya. Rakyat juga juga tidak menitipkan kemarahannya (terhadap modal asing) pada PDI-P, yang berlagak menjadi oposisi, yang berlagak membela rakyat semenjak kekalahanya di Pemilu 2004, agar di pemilu 2009 nanti bisa kembali menjadi pemenang (dan bisa membohongi rakyat lagi). Rakyat juga tidak memberikan enerjinya perlawanannya pada tentara, karena tentara pun betekuk-lutut dihadapan modal asing.

Rakyat melawan dengan kekuatannya sendiri, dengan mobilisasinya sendiri, dengan organisasinya sendiri, dengan selebarannya, dengan aksi-aksinya, dengan pemogokan-pemogokannya, prinsipnya rakyat sedang mencari saluran perlawanannya, yang lebih kuat, yang bisa memberikan arah pembebasan dirinya.

Di sisi lain, kaum pergerakan, yang lebih berpengetahuan, yang lebih cakap, masih belum mampu mewadahi enerji rakyat yang sedemikian besar—bahkan, belakangan ini, banyak di antara kaum pergerakan yang tak lagi percaya pada enerji rakyat untuk melakukan perubahan, sehingga beramai-ramai menyandarkan harapan perubahan pada tentara, sisa Orde Baru maupun reformis gadungan.

Tugas mendesak kaum pergerakan saat ini adalah bagaimana menyatukan seluruh enerji rakyat yang sedang berlawanan, sekaligus membangkitkan enerji jutaan rakyat lainnya yang masih belum berlawan, dengan program-program yang sanggup menghancurkan dominasi modal asing, menghancurkan  sisa orde baru, tentara dan reformis gadungan, yang sejatinya adalah boneka-boneka modal asing.

Dengan demikian, pilihan-pilihan politik yang membuka peluang intervensi (kooptasi) oleh sisa kekuatan orde baru, tentara maupun reformis gadungan harus ditinggalkan, demikian pula dengan pilihan politik bekerja sama(kooporasi) dengan mereka juga harus ditinggalkan. Karena hanya dengan bersandar pada kekuatan rakyat sendirilah, kekuatan rakyat miskin, maka politik rakyat miskin bisa berkembang, meluas dan sanggup menandingi (bahkan menhancurkan) kekuatan politik kelas penindas.

Saatnya mengobarkan perjuangan perjuangan rakyat miskin, karena semua kelas elit, kelas borjuis, TELAH GAGAL!

 ***

Kebijakan neoliberalisme yang selama ini diterapkan oleh pemerintah SBY-JK—dan juga rezim sebelumnya—mengakibatkan terjadinya kemerosotan kesejahteraan rakyat. Di berbagai sektor, kebijakan pencabutan subsidi pendidikan, kesehatan, BBM, listrik, penjualan aset nasional, perdagangan bebas telah menciptakan “liang kubur” bagi penduduk di negeri ini. Tingkat pengangguran yang tinggi; kebangkrutan perusahaan; kenaikan harga kebutuhan pokok; mahalnya biaya pendidikan; penggusuran PKL dan tanah rakyat; trafficking (penjualan perempuan dan anak); busung lapar; tingginya kematian anak dan ibu; merupakan kenyataan atas sesat pikirnya konsep (berikut penerapannya) ekonomi-politik  yang digunakan. Imperialisme (penjajahan) telah menyeret seluruh tenaga produktif (force of production) berada dalam monopoli ekonominya. Hasilnya, imperialisme telah menciptakan dunia yang tidak adil, dunia bagi sebagian besar rakyat yang dimiskinkan namun, di sisi lain, segelintir kapitalis meraup keuntungan atas jerih payah kaum miskin. Sehingga, melawan imperialisme dan agen-agennya merupakan keharusan jika hendak mempertahankan kelangsungan hidup. Sebab dominasi imperialisme telah merenggut syarat kelangsungan hidup kaum miskin.

Perlawanan terhadap imperialisme dan agen-agennya—pemerintah SBY-JK, sisa Orde Baru, reformis gadungan, militer, milisi sipil reaksioner—demi demokrasi dan kesejahteraan memerlukan syarat-syarat pokok, yakni: prinsip, program dan metode politik rakyat miskin (konsep politik rakyat miskin)—yang ditunjang oleh organisasi politik rakyat miskin.

Program-program politik rakyat miskin adalah program yang memberikan jalan keluar atas persoalan-persoalan (darurat/mendesak) hari ini dan persoalan-persoalan  jangka panjang (strategis) terhadap seluruh rakyat Indonesia. Misalnya, program-program darurat antara lain: pendidikan dan kesehatan gratis; perumahan murah dan layak; upah layak nasional; pembukaan lapangan kerja; dan sebagainya; Kemudian, program Strategis antara lain: hapuskan utang luar negeri; tarik surat utang negara; nasionalisasi industri pertambangan asing;  bangun Industrialisasi (pabrik) nasional; dan bentuk pemerintahan rakyat miskin.

Program-program politik rakyat miskin tersebut harus dijalankan dengan prinsip dan metode politik rakyat miskin. Prinsip dan metode politik rakyat miskin adalah panduan/arah perjuangan bagi gerakan politik rakyat miskin agar dapat terus berjalan pada arah yang semestinya. Prinsip politik rakyat miskin yang utama adalah: Non Kooperasi dan Non Kooptasi. Perjuangan rakyat miskin harus terbebaskan dari pengaruh-pengaruh agen-agen Imperialisme, yang setiap saat mencoba untuk membelokkan arah perjuangan rakyat miskin dengan cara-cara yang halus serta terselubung. Non Kooperasi dan Non Kooptasi tersebut menunjukkan bagaimana rakyat belajar dan berlatih untuk menyandarkan kemampuan kolektifnya (kemandiriannya) agar dapat bertahan dan melawan seluruh kebijakan dan praktek neoliberalisme. Sedangkan metode perjuangan politik rakyat miskin adalah cara agar gerakan rakyat dan rakyat dapat mewujudkan cita-cita perjuanganya: Demokrasi dan Kesejahteraan. Metode perjuangan politik rakyat miskin yang utama adalah Persatuan Mobilisasi. Dengan persatuan mobilisasi maka rakyat dapat melipatgandakan kekuatannya; melipatgandakan tuntutannya; melipatgandakan keberanian perlawanannya; melipatgandakan kualitas perjuangannya sehingga tuntutan mendesak dan strategis dapat terwujud. Mobilisasi perlawanan dengan persatuan tersebut harus dirancang dengan terorganisir dan sistematis agar setiap orang yang terlibat dalam persatuan mobilisasi menyadari landasan dan konsekuensi dari mobilisasi (aksi) perlawan tersebut. Semakin banyak yang sadar maka akan semakin sedikit peluang bagi agen-agen imperialisme/penjajah untuk memecahbelah perlawanan rakyat. Sudah cukup terpecah-pecah. Saatnya bersatu. Perjuangan terpecah-pecah tidak akan merubah kita dari bangsa kuli menjadi bangsa merdeka dan mandiri.

Program, Prinsip dan Metode Politik Rakyat Miskin tersebut harus dijalankan oleh organisasi politik rakyat miskin (sebagai organisasi alternatif, organisasi tandingan terhadap musuh-musuh rakyat). Organisasi politik rakyat miskin adalah organisasi yang karakteristik perjuangan, prinsip, mekanisme, dan unsur-unsur didalamnya mendukung terwujudnya konsep politik rakyat miskin tersebut. Organisasi politik rakyat miskin tersebut juga harus dapat menjangkau seluruh sektor, teritorial, ras, suku, agama dari seluruh masyarakat Indonesia yang sama-sama ditindas oleh penjajahan modal asing (imperialisme). Oleh karena itu, organisasi politik rakyat miskin tersebut haruslah didukung oleh seluruh rakyat yang sadar akan penindasan kapitalisme internasional saat ini. Agar cita-cita merebut demokrasi dan kesejahteraan (yang saat ini dimanipulasi oleh imperialisme dan agen-agennya)  dapat menjadi kenyataan sejarah. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s