Surat untuk Kedutaan Pakistan di Jakarta, Indonesia
Kepada: Bapak. Sanaullah
Duta Besar Pakistan
Jalan Mega Kuningan Barat Blok E.3.9 Kav. 5-8, Mega Kuningan Jakarta Selatan Indonesia
Telpon: +62-21-57851836-8
Faks: +62-21-57851645
Email: pakembassyjakarta@gmail.com
Website: www.mofa.gov.pk/Indonesia/default.aspx
Bebaskan Baba Jan dan Seluruh Tahanan Politik Hunza dan Faisalabad 9;
Demokrasi dan Kesejehtaraan untuk seluruh rakyat Pakistan!
Salam hormat,
- Kami menulis surat ini pada anda terkait beberapa pendukung dan anggota Partai Buruh Pakistan (LPP) yang ditahan diberbagai penjara Pakistan, termasuk 9 buruh tekstil di penjara Faisalabad. 15 aktivis saat ini berada di penjara Gilgit termasuk Baba Jan, anggota terpilih Komite Federal LPP. Mereka BUKAN teroris. Mereka adalah aktivis politik. Namun demikian, mereka semua dikenakan undang-undang Anti Teroris. Read more…
Aksi Sekber buruh 21 Mei 2012
Persoalan Rakyat Tidak Mampu Diselesaikan Dengan Reformasi!
Lawan & Gulingkan Kediktatoran (Orde) Modal!
Beberapa hari lagi kita akan masuk pada momentum bersejarah yang membuktikan kebesaran kekuatan rakyat, yaitu tumbangnya kediktatoran orde baru Soeharto. Tepat pada 21 Mei 1998, atas tekanan kekuatan rakyat yang membanjiri pusat-pusat kekuasaan dan aset-aset vital ketika itu, Soeharto tak punya jalan lain kecuali mengikuti tuntutan rakyat untuk berhenti jadi penguasa. Sorak kemenangan seakan memperpanjang ‘nafas rakyat’ untuk mengenyam harapan atas kehidupan yang lebih merdeka dan bermartabat.
Kini, menjelang berjalannya tahun ke-14 reformasi, banyak rakyat mulai bertanya, apakah hasil dari reformasi itu? Diawal-awal perjalanannya (1998-2001) kita masih dapat melihat bahwa reformasi menghasilkan kebebasan berkumpul/berorganisasi, berpendapat, dan aspek-aspek lain atas demokrasi (kelembagaan/prosedural), yang sedikit meluaskan ruang partisipasi ekonomi politik rakyat. Namun semakin berjalannya waktu, permukaan yang seakan demokratis dan berpengharapan terlihat semakin bopeng dan keropos. Rakyat mulai mengeluhkan kenyataan yang semakin absen menghadirkan kesejahteraan. Bahkan kebebasan berkumpul dan berpendapat saja yang dahulu sempat didapat kini mulai dicerabut oleh penguasa dengan berbagai macam cara. Puluhan lembaga yang hadir pasca reformasi pun seperti tak memiliki kekuatan untuk membela kepentingan rakyat. Read more…
Malapetaka ’65 yang belum usai

Judul : Malapetaka di Indonesia: sebuah renungan tentang pengalaman sejarah gerakan kiri Penulis : Max Lane Penerbit : Penerbit Djaman Baroe Cetakan : Pertama, 2012Tebal : xiv + 114 Halaman
oleh: Achmad Choirudin*
Pagi itu, saat menikmati sarapan di pematang sawah, saya membagi cerita soal kesuksesan kelompok tani sebuah desa di Kabupaten Gunung Kidul tempat saya menjalankan Kuliah Kerja Nyata pertengahan tahun lalu, kepada bapak. Saya mengatakan bahwa kesuksesan kelompok tani untuk mengkonsolidasikan petani dalam pembelajaran soal tanam-menanam, produksi pupuk organik sampai distribusinya hingga kontrol atas bantuan pertanian dari negara, tak lepas dari peran ketua pertamanya yang merupakan ex tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). “Padahal wong (orang) PKI, ya,” sahut bapak enteng. “Justru itu, pak,”[i] saya langsung menimpali. Read more…
Direct Action — March 14, 2012. Segera setelah pecahnya krisis ekonomi-keuangan di tahun 2008, terdapat spekulasi yang bingung di media (bahkan dalam Partai Buruh Australia) bahwa pemerintah (yakni, kelas penguasa) akan kembali menyampahkan neoliberalisme dan kembali pada beberapa bentuk dari ekonomi Keynesian yang cukup standar sejak Perang Dunia ke II sampai awal tahun 1970-an. Spekulasi ini dirangkum dengan baik akhir Oktober lalu oleh jurnalis Truthout Michael Corcoran:
“Setelah bailout (menalangi kebangkrutan) Bear Stearns tahun 2008, Martin Wolf, seorang penulis ekonomi untuk Financial Times dan biasanya pendukung setia terhadap globalisasi pasar-bebas, menulis: ‘Ingat 14 Maret 2008: adalah hari dimana mimpi kapitalisme pasar bebas global mati.’ Di artikel yang sama, mengutip Joseph Ackerman, kepala eksekutif Deutsche Bank, ia mengatakan: ‘saya tak lagi percaya pada kekuatan pasar untuk menyembuhkan diri sendiri.’ Dalam artikel 10 Oktober, The Washington Post — dengan segala keseriusan — mengemukakan bahwa krisis ekonomi saat ini berarti ‘Akhir dari Kapitalisme Amerika’ yang selama ini kita kenal. Sampul majalah Time pada Februari 2009, menyatakan, Kita semua Sosialis sekarang,’ mengacu pada kebutuhan akan intervensi pemerintah untuk menyelamatkan kapitalisme yang sakit. ‘Apapun yang mau kita akui ataupun tidak,’ artikel tersebut mengamati, ‘Amerika tahun 2009 sedang menuju suatu negara Eropa modern.’” Read more…
Seruan solidaritas mendesak: Ancaman kematian terhadap aktivis-aktivis di penjara Pakistan
Bagi kawan-kawan aktivis, serikat-serikat buruh, dan organisasi-organisasi sosial politik pendukung demokrasi dan hak-hak azasi manusia yang mendukung seruan ini, diharapkan konfirmasinya pada alamat email berikut: partai.pembebasan.rakyat@gmail.com agar juga dapat membicarakan rencana aksi solidaritas bersama dalam waktu dekat.
Selama seminggu terakhir kami memperoleh informasi yang mengkhawatirkan terhadap nasib lima tahanan politik di wilayah Gilgit-Baltistan, “Wilayah sebelah Utara” Himalaya, Pakistan.
Pada pagi hari 28 April, lime tahanan politik ini dipukuli dengan kejam dan disiksa oleh polisi dan aparat keamanan. Mereka dibiarkan paling tidak seminggu tanpa pemeriksaan apapun terhadap luka-luka yang mereka alami, tanpa kunjungan dokter, melanggar perintah pengadilan agar mereka diperiksa, dengan hanya roti kering untuk makan. Mereka dipindah secara paksa ke penjara bagi kriminal yang lebih keras dan kita pantas khawatir bahwa tujuan pemindahan mereka adalah agar mereka dibunuh oleh tahanan lain (dalam perkelahian antar tahanan…) sehingga pejabat yang berkuasa tak akan dikenakan tanggung jawab secara langsung. Read more…
Laporan Situasi Internasional
Laporan telah disetujui oleh IC Fourth International Februari 2012*
Garis besar laporan ini, dipresentasikan oleh Laurent Carasso atas nama Biro Fourth International dan diperkaya oleh diskusi, diadopsi oleh mayoritas anggota Komite Internasional pada 25 Februari 2012.
Situasi internasional terus ditandai oleh suatu kekosongan perspektif di dunia kapitalis. Hampir lima tahun setelah dimulainya krisis sub-prime, sistem ini tak lagi bisa keluar dari krisis over-akumulasinya. Tekanan yang dilakukan oleh Bank dan pusat-pusat kekuasaan kapital untuk mempertahankan tingkat keuntungan, ditengah lemahnya pertumbuhan, hanya semakin memperburuk kondisi kehidupan rakyat. Read more…
Jasad Marsinah diketahui publik tergeletak di sebuah gubuk berdinding terbuka di pinggir sawah dekat hutan jati, di dusun Jegong, desa Wilangan, kabupaten Nganjuk, lebih seratus kilometer dari pondokannya di pemukiman buruh desa Siring, Porong. Tak pernah diketahui dengan pasti siapa yang meletakkan mayatnya, siapa yang kebetulan menemukkannya pertama kali, dan kapan? Sabtu 8 Mei 1993 atau keesokan hari Minggunya? Seperti juga tak pernah terungkap melalui cara apapun: liputan pers, pencaraian fakta, penyidikan polisi, bahkan para dukun maupun pengadilan, oleh siapa ia dianaya dan di(ter)bunuh? Di mana dan kapan ia meregang nyawa, Rabu malam 5 Mei 1993 atau beberapa hari sesudahnya? Kita cuma bisa berspekulasi dan menduga-duga. Kita memang bisa mereka-reka motif pembunuhan dan menafsirkan kesimpulannya senidri. Tapi kita tak mampu mengungkap fakta-faktanya. Kunci kematiannya tetap gelap penuh misteri hingga kini, walau tujuh tahun berselang. Read more…






